Aku bukan penulis yang handal, sama sekali bukan
Aku hanya orang yang hobi berbagi cerita
Aku sangat senang berbagi cerita
Maafkan jika cerita yang tersampaikan ternyata bukan mendatangkan manfaat
Maafkan jika cerita yang tersampaikan mungkin menyinggung
Karena
Setiap kita berproses
Belajar
Untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik
Selanjutnya, postinganku beralih ke blog satunya
Keep reading, everywhere, anywhere and be happy! :D
"Blog, is the place where I share some words" -Denia-
Seperti tagline yang aku tulis di header blog ini, bahwa blog ini adalah (the place where we share some words), maka seperti itulah adanya, postingan kali ini aku mau ngajak Den's sekalian diskusi tentang peran perempuan era modern, lebih khususnya, peran Perempuan Muslim (baca:Muslimah) di era modern.
Sejak zaman Perjuangan kartini, kita, perempuan Indonesia sudah seringkali dicekoki dengan yang namanya emansipasi, bahwa perempuan berhak menyenyam pendidikan yang lebih tinggi, bahwa perempuan berhak memegang peran dalam pembangunan negara, bahwa tidak boleh ada diskriminasi gender. Aku tidak sepenuhnya setuju, tidak juga sepenuhnya menolak, hanya pada beberapa poin aku kurang sepakat dengan ide antimainstream Bu Kartini dijamannya ini.
Kalau tentang pendidikan, posisi dan peran, aku sih setuju aja, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Tapi hai Muslimah, pahamilah bahwa tetap saja ada peran lelaki yang tak bisa kita gantikan, bahwa memposisikan kita berbeda itu tidak selalu berarti diskriminasi.
Contoh sederhananya tentang menjadi kepala rumah tangga atau yang memiliki keputusan tertinggi dalam keluarga, tentu saja peran ini mutlak milik lelaki, kita semua sudah belajar "Arrijalu qowwamuna 'ala nisa" bahwa lelaki adalah pemimpin atas kaum perempuan. Tetapi pada kenyataanya, karena kesalahpahaman akan makna emansipasi, kebanyakan teman sesama perempuan -dalam bincang santai- mengatakan bahwa setelah dia menikah nanti, ia akan tetap menjadi perempuan pekerja, wanita karir istilah kerennya, lalu iseng aku bertanya "Kenapa? Kalo suami nanti gak izinin kamu kerja dengan alasan yang masuk akal dan suamimu memang mampu untuk memenuhi kebutuhan kalian gimana dong?" Jawaban yang diluar perkiraan, mereka lebih memilh untuk berpisah dengan lelaki yang membatasi ruang gerak mereka. Bahkan ada yang sampai menjawab "Coba deh bayangin akan jadi apa kalo kita gak kerja, terus kita gak punya penghasilan dan terrnyata suami ceraikan kita?" Nah loh, nah loh, jadi makna berbakti pada suami kalah nih dengan emansipasi? Atau, memang niat kerjanya untuk antisipasi kalo cerai? Kita kan menikah merencanakan sebaik-baik pernikahan, bukan merencanakan perceraian. Ya, kan?
Sejujurnnya aku belum menikah, tetapi insyaAllah akan segera menikah, heee, mohon doanya Den's sekalian. Aku berpikir panjang tentang hal ini, aku dan temen-temen lain yang sekarang sedang duduk dibangku kuliah, kelak saat aku selesai maka kita akan memiliki sebuah gelar, yang dengan gelar itu ada tuntutan sosial bahwa kita harus menjadi lebih dari sekedar Ibu Rumah Tangga biasa layaknya perempuan lain yang tidak sampai kuliah. Aku coba merenungkan baik-baik kisah ini dan berkaca kepada Ummul Mukminin kita Aisyah r.a semoga kita kelak dipertemukan di Syurga Nya, aamiin.
Coba pahami betul kisah Ummi Aisyah, bahwa beliau adalah perempuan yang sangat cerdas, mampu menghafal Al Quran dan ribuan hadits, kemudian beliau adalah wanita yang digambarkan sangat cantik, tetapi beliau tetap menjadi Istri yang sangat berbakti, mendukung setiap kegiatan Rasulullah, mampu memahami Rasul, menjadi Ibu Negara yang rendah hati dan tetap menjaga kehormatan tanpa meninggikan posisinya diatas Rasulullah S.A.W.
Nah, kalau perempuan yang luar biasa cantik dan cerdas saja tetap patuh pada Rasul, masa kita yang hanya butiran debu ini gak berusaha untuk memuliakan diri seperti yang telah Ummi Aisyah contohkan?
Ada yang tahu foto keluarga siapa ini? Mungkin ada yang sudah tahu dan ada yang belum ya?
Baiklah, ini adalah keluarga Ustadz Budi Dharmawan dengan Istri Bunda Yoyoh Yusroh Almh. Keluarga hebat dan dikaruniai 13 anak (9putra dan 4putri) ini adalah keluarga eramodern yang baik untuk diteladani.
Bunda Yoyoh Yusroh, dengan tetap merawat anaknya, beliau tetap mengukir prestasi dan membawa anaknya menjadi anak-anak yang juga tak kalah banyak prestasinya. Atas izin Suami, beliau tetap aktif berpolitik tanpa mengabaikan kewajiban beliau sebagai Istri dan madrasah untuk anak-anaknya. Kiprah terakhir sebelum meninggal beliau adalah Anggota DPR RI komisi VIII sebagai wakil ketua fraksi PKS. Diantara kesibukannya memperjuangkan ummat, Bunda Yoyoh Yusroh tetap menjaga Ibadah amalan harian nya yaitu bertilawah 3juz dalam sehari, memksimalkan diri di Politik dan mencetak putra-putri kreatif penghapal Qur'an berprestasi. MANTAP
Hmmm.. Kita akan seperti apa ya? Silahkan temen-temen cari rolemodel perempuan yang menginspirasi kalian dan jangan lupa carinya yang cantik luar dalem ya, karena kalo cantik wajah aja, 20-30 tahun lagi mah keriput. Coba yuk kita buka lagi buku perencanaan hidup yang udh kita buat, aatu yang belum buat, dibuat yuk buku perencanaanya, apakah kita sudah bercita-cita memenuhi kriteria wanita yang sholehah dan mampu menshalihkan keluarga dan anak-anak kelak? Kalau dirasa masih belum, yuk buat perencanaan ulang dan lebih tersusun mantap.
Semoga kita bagian dari bidadari dunia yang dirindukan Syurga, aamiin :)
Tepat 87 tahun yang lalu, di masa penjajahan Belanda, disaat sedikit saja pergerakan itu berarti mempertaruhkan nyawa, pemuda Indonesia dalam PPPI (Perhimpunan Para Pelajar Indonesia) berani mengangkatkan kegiatan yang bertujuan untuk menyatukan Indonesia. Kongres itu hingga kini dikenang dan menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di gagas oleh M. Yamin, kongres tersebut menghasilkan rumusan yang disebut sebagai SUMPAH PEMUDA :
PERTAMA : Kami Poetera
dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah
Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang
Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA
: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe,
Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa
Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA
: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean,
Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa
Persatuan, Bahasa Indonesia).
Sekilas sejarah sangat singkat tentang yang terjadi hari ini di 87 tahun yang lalu di Indonesia. Lalu apa yang kita lihat dari pemuda Indonesia yang ada saat ini? Aku mencoba mencari jawabannya melalui mesin pencari mbah gugel dengan kata kunci "Remaja Indonesia saat ini" dan "Pemuda Indonesia hari ini" kalian tau apa yang aku temukan Den's?
SEE WHAT I GOT !
Gambar diatas adalah penemuan dengan kata kunci remaja, aku sedih, menggigil takut sekaligus ngeri saat mendapatkan gambar ini. Kalian bisa coba sendiri kalau tak percaya! Gambar berikutnya yang dibawah adalah hasil dengan kata kunci pemuda, sedikit berbeda, tapi sama saja menyedihkannya.
Kalian bisa lihat apa yang aku maksud dengan menyedihkan? Yup! lihat apa yang aku lingkari merah dipojok kanan bawah, bukan hanya tentang tawurannya, yang sangat miris dari gambar ini adalah saat kata kunci yang aku pakai adalah PEMUDA INDONESIA SAAT INI justru yang keluar dihasil pencarian adalah gambar-gambar orang yang masa masih pemuda-nya adalah saat Indonesia belum merdeka, bayangkan saja, seandainya mereka semua masih hidup, saat ini usia mereka berapa? Lalu aku penasaran, saat aku scroll layar kebawah, ada memang gambar yang lebih modern, mungkin saja memang mereka masih pemuda, tapi ya pemuda yang tampil adalah yang aku lingkari merah. Seburuk itukah PEMUDA INDONESIA masa kini?!
Jika hasil itu indah
kenapa begitu banyak orang yang menyiakan hasil? Jika hasil itu indah,
kenapa begitu banyak orang kelelahan untuk mempertahankan?
Disekitar, aku lebih banyak melihat orang menyerah pada hasil
dibandingkan menyerah pada proses
Lalu yang aku takutkan saat ini
Untukmu, hidup bersamaku apakah sebuah hasil?
Celetukan yang keluar gitu aja dikepalaku, mungkin udah kebayang apa yang lagi aku bahas disini, yup, kabut asap. Kabut asap yang bukan hanya menutupi indahnya Indonesia tercinta, tetapi juga membuat jodoh semakin gak keliatan *eh
Dua hari lalu dapet kabar sedih dari kampung halamanku yang aku sangat cintai, Lampung, yup, tepatnya Kecamatan Ketapang di Lampung Selatan. Kabar menyedihkannya adalah kabut asap mulai mengganggu aktifitas disana, Masku yang nelayan juga jadi terganggu aktifitasnya karena kabut asap ini, begitu juga dengan aktifitas masyarakat lain, bukan hanya di Lampung, tetapi juga di bagian lain di pulau sumatera.
Kalian tau, aku yakin bukan hanya aku yang sedih dengan berita buruk ini, sudah pasti untuk hal ini kalian semua tau lah yaa. Ada satu hal lagi yang membuat aku lebih sedih. Tebak! Lebih menyedihkan daripada berita meningkatnya penderita ISPA. Apa itu?
Hal yang paling menyedihkan bagiku adalah saat aku menyadari betapa kejamnya aku pada manusia lain, merasa semuanya aman-aman saja karena bisa memastikan aku dan orang-orang yang aku cintai berada pada lingkungan yang aman, tapi baru gelagapan dan kebakaran jenggot pas keluarga ku juga terancam hal yang membahayakan kesehatan dan bahkan masa depannya.
Mungkin itu juga alasan masih banyak yang keukeuh, gak berempati dan bahkan menganggap bahwa keluhan korban asap ini terlalu lebay. Beberapa waktu lalu aku juga berpikiran sama, kejam bukan?
Lalu, apa aku harus lebih kejam lagi dengan berdoa berharap kabut asap ini merata se Indonesia? Supaya bangsa Indonesia ini serasa sepenanggungan, karena hal itu bisa membuat jadi satu semangat seperjuangan.
Aku, atau mungkin kita, seringkali merasa sebal saat ibu, dengan nada menyebalkannya menasihati kita hal yang itu itu saja. Mengulang kalimat yang selalu sama.
Tapi menarik, saat aku, dengan sebal yang membuncah, tetap berusaha mengambil kebaikan dari nasihat yang beliau ucapkan.
Kita tau, sangat paham bahwa tak ada orangtua yang menginginkan anaknya melakukan keburukan atau mengalami hal yang buruk.
Tentang cinta misalnya, aku pikir, tentang ini ibu sangat benar, berikut beberapa nasihat yang selalu berulang
"Jangan terlalu senang karena bisa mencintai, cobalah untuk diam sampai kamu yang dicintai"
"Kenapa kamu harus kerumahnya?! Bukankah bisa aja dia yang main kesini?! Apa masih kurang bukti untuk kamu bisa sadar bahwa dia gak mencintai kamu? Kamu tau, sekarang dia sudah membuktikan bahwa kamulah yang ngebet sama dia"
"Kenapa harus ketemuan diluar? Bukankah kalian bisa ngobrol dirumah? Bukankah kalian selalu komunikasi di hp?"
"Ngapain kamu harus kerumah sodaranya? Apa kamu pikir dia sedang mengenalkan kamu ke keluarganya dan kamu berpikir dia sedang menunjukkan keseriusannya? Salah kamu."
"Ndok, cobaannya laki-laki itu perempuan, dan cobaannya permpuan itu laki-laki. Kamu cuma perlu sabar, sakit itu biasa kok, tapi ya kamu bebas milih, kamu mau kalah atau menang dari perasaan itu?"
Sosial media bukanlah tempat untuk kita curhat. Aku rasa aku tau itu, maka sebisa mungkin aku menghindarinya.
Apa apa yang aku tulis tak selalu apa yang sedang terjadi. Aku menyimpan beberapa draft untuk diposting, bisa jadi aku post tentang kebahagiaan saat aku sedang sedih, ataupun sebaliknya.
Aku ingin lari. Menjauh, sejauh yang aku mampu. Pergi dari perasaan yang begitu membingungkan. Kebingungan yang kita sendiri yang membuatnya.
Kalau cinta itu kebahagiaan, kenapa kita tersiksa dengan segala rasa yang menjadi pelengkapnya? Cemburu, gelisah, resah, dan terabaikan.
Manusia seringkali bingung oleh kebingungannya sendiri.
Seperti inilah, wanita, makhluk kepastian. Tak ingin di-PHP, namun memilih menjalani hubungan tak berkejelasan.
Aku jadi terkesan mendesak, memaksa seseorang yang sedang bingung apakah dia mencintaiku atau tidak untuk menikahiku. Ya, menikah. Membuat pasti semua ketidakpastian. Memperjelas semua ketidakjelasan.
Sekali lagi, tak perlu mencari kesimpulan dalam tulisan ini, karena aku tak menuliskannya.
Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi? Mengapa ini yang terjadi?
Potongan lagu Melly Goeslaw ini menarik menurutku, di lagu ini secara keseluruhan intinya jangan sampai perbedaan menjadi pemisah, karena perbedaan itu adalah pelengkap. Kepingan puzzle pun harus berbeda untuk bisa dipasangkan. Oh iya, jangan sampai salah fokus. Postingan ini bukan untuk bercerita tentang percintaan, bukan. Ini adalah apa yang sering kita lihat disekitar, karena hidup tidak melulu bercerita cinta.
Tepatnya kemarin, saat aku menghadiri diskusi umum mahasiswa yang membahas tentang pergerakan Mahasiswa, dihadiri dua narasumber yang memang berkompeten di bidang pergerakan dan berkecimpung banyak dalam pergerakan. Dua narasumber ini memiliki jejak yang luarbiasa dalam sejarah pergerakan.
Yang menarik dari dua pemateri ini, mereka menerjemahkan pergerakan dari dua sudut pandang yang berberda. Narasumber A menekankan pergerakan, aksi mahasiswa dan audiensi kepada pemerintah lebih kepada penekanan, tekanan pada pemerintah itulah yang harus lebih dikuatkan, semakin pemeritah tertekan, maka aspirasi akan lebih terperhatikan. Sementara narasumber B menasihati untuk mahasiswa tidak harus selalu berteriak teriak, karena status Maha yang kita miliki adalah kekuatan, kita bisa berbicara baik-baik dan membicarakan dengan baik-baik, maka dengan cara itu, yang kita sampaikan akan lebih di perhatikan.
Pernyatan tersebut disanggah lagi oleh narasumber A, "Bicara baik-baik? Mereka memang mengajak kita berbicara baik-baik, tapi hal yang kita sampaikan ataupun draft usulan yang kita punya hanya akan masuk tong sampah tanpa mereka pelajari sebelumnya. Kalian mau membawa apa? Rancangan usulan? Mustahil diterima! Mereka punya staff profesional yang jauh lebih berkompeten, lulusan S2 dan S3 untuk membuat draft rancangan! Itu saja masih kacau sana sini, apalagi usulan buatan kita? Dibuat oleh Mahasiswa yang S1-nya saja belum lulus, hanya dalam waktu satu malam sebelum advokasi. Haha. Nol."
Narasumber B menjawab lagi "Mahasiswa sebagai social control, masa' kontrol diri sendiri aja gak bisa, masih pakai cara tradisional, demo. Oke, anggaplah kita turun aksi dengan membawa 15.000 mahasiswa se-Indonesia lainnya medesak pemerintah menurunkan harga bbm, apakah bbm akan pasti turun? belum tentu kan? Udah gitu, diantara mahasiswa yang aksi, pas ada salah satu orang yang dipilih secara acak untuk diwwancarai oleh wartawan, ditanya itu aksi apa, didepan kamera, didepan jutaan warga dia mengatakan 'gak tau, saya mah ikut aja' Nah! bukankah itu percuma? Jangankan sampe masyarakat luas, yang demo aja gak tau mau ngapain"
Diskusi semakin menarik, penonton dan suasana duskusi makin panas, sepertinya penonton lain melihat bahwa panitia salah mencari narasumber, ini dua narasumber malah saling adu pendapat. Tapi aku melihat hal yang berbeda, menarik, Kita diajak untuk melihat semuanya dari berbagai sudut, tentang pergerakan ini, bahwa ada banyak hal rupanya yang sering terjadi dalam praktiknya, namun begitu, perbedaan memang akan selalu ada, yang terpenting, jangan ada perpecahan karena perbedaan, tujuan kita sama : INDONESIA ADIDAYA.
Ini adalah kode rahasia yang berhasil kudapatkan dari seorang rahasia. Kamu tau kode apa ini? Ini adalah kode untuk membuka rasa kangenku, dengan kode ini, sorang tersebut membuatku tak sabaran ingin cepat pulang.
Dialah adenaya, keponakan yang bulan ini adalah bulan ke 22 ia tersenyum didunia.
Adenaya, lahir pada tanggal (aku lupa tanggalnya) Augustus 2013. Tepat saat aku menelpon kerumah until mengabari bahwa pesawat yang kunaiki baru saja landing dikampung halaman terciptanya rendang, saat itu juga aku mendengar kabar kelahiran sikecil merah nan imut ini. Kamu tau? Akibatnya, aku harus bersabar menanti waktu liburan untuk bisa mencubit pipinya
Jadilah gadget sebagai obat pelepas rinduku, memantau perkembangannya Dari gambar ake gambar. Inilah cara paling modern saat ini (yang aku bisa). Mungkin sebaiknya aku segera menjadi ilmuwan, menemukan pintu ajaib. Agar aku bisa dengan mudah pulang hanya until melihat apakah hari ini ada Gigi yang baru tumbuh lagi atau hanya mengolesi minyak kayu Putih pada kulit halusnya yang tadi malam digigit nyamuk.
Oh adenaya Ku sayang sekarang ia semakin cerdas, pandai berhitung, saat ada dua HP didepannya, ia menghitung "empat enam tucu" dengan suara melengking, lalu setelah ditanya "ada berapa HP nya? "Dua"
Kamu tau? Rasanya ingin segera pulang mencubit pipinya hingga ia menangis dan mengadukan aku pada bundanya, sesegera mungkin.
Tapi apadaya, mempersiapkan diri untk masa depan yang bisa kulakukan ya dengan cara ini,
Merindu Dari kejauhan, dan berdoa, semoga mereka semua selalu dalam lindungan-Nya.. Aamiin
Enam bulan itu waktu yang lama atau bukan?
Ada yamg bilang iya, ada juga yang bilanh gak. Kalau aku, ada diantaranya. Siapa coba yang gak rindu dengan keluarga? Harus menahan rindu yang sesakitsakitnya selama enam bulan untuk bisa bertemu dan melihat mereka, keluarga dan sahabat tercinta
Lebih parahnya lagi, kita kehilangan banyak momen bersama, kita cuma dengar kabar dan lihat fotonya, tanpa ada didalamnya. Sekali lagi. Rindu yang sesakitsakitnya. Kalau diibaratkan, ini ibarat bisa melihat angin, geregetan pengen coba sentuh angin, tapi gabisa.
Kapan pulang
Kapan pulang
Kapan pulang
Dalam beberapa hari terakhir banyak yang mengajukan pertanyaan yang sama, dan aku jawab dengan jawaban yang sama : sama-sama ragu akan pulang kapan.
Aku punya target lulus 2017 (aamiin) dan kalau aku terlalu lama libur, itu bisa menyebabkan terlalu lama nunda kuliah. Gamau dong? Aku mau semester pendek, dan karena itu, ada kemungkinan aku merayakan lebaran diatas gunung, yalah, daripada lebaran di darat, homesick ntar, bisa stress.
Ada lagi, bukan hanya pertanyaan kapan pulang yang terucap, tapi ungkapan rindu, kangen, sering aku dengar dan baca bberapa hari ini. Hmm, ada rasa bersyukur yang memincak dikepala, menyadari trnyata hadirku masih dirindukan.
Dear all my beloved people in this world, aku begini bukan gak kangen, ini caraku mengalihkan pikiran supaya enam bulan itu gak terlalu menyiksaku.
Sesungguhnya, aku juga sangat rindu kalian.
Gimana ujiannya? Sukses kan? Yang sibuk ujian sebegitu sepinya gak ada curhat atau cerita apapun. Males nulis po?
Seminggu ini aku menggila, aku dihantui laporan kemajuan PKM, yang bikin aku menggila adalah : semua arsip kegiatan ada di laptop yang lagi di service. Bahkan sampai sekarang belom upload, gila banger lah pokoknya.
Sahabat, apakah dirimu merasakan ketersiksaan yang sama denganku? Sesungguhnya yang kurasa ini adalah rindu yang menggila. Karena rasa menggila ini aku semakin yakin bahwa yang kits lakukam Sekarang adalah jauh lebih baik.
Yang ingin aku ceritakan terlalu banyak, ngetik pakai hand phone agak sedikit menantang karena aku jadi sering salah ketik, jadi akan kuceritakan beberapa, selebihnya, aku ceritakam someday , insyaAllah.
1. Berat badan aku meningkat tajaaaam :( Aku gak percaya dengan yang aku lihag taxi siang saat aku ukur berat badan. Dirimu ga perlu tau berapa angka before Dan after, yg pasti meningkaaaaat.
2. Beberapa hari ini aku ngerasa tersiksa banget, lagi banyak-banyaknya tekanan, sementara gak ada tempat berbagi cerita, gak ada yang kirim foto absurd, ga ada yang kirim rekaman yang suaranya 'merdu' banget , hehee
Kapan-kapan kirimin lagi dong ya, siapa tau dirimu ngirim saat aku lagi membutuhkannya, hahaa
3. Ini yg lumayan penting : SELAMAT HARI TANPA TEMBAKAU SEDUNIA. Meski keluarga kita banyak perokok, tetaplah jadi pendukung aku untuk perangi tembakau Dan semua akibat buruk yang disebabkannya.
4. Tadi siang aksi HTTS, harusnya ada adik-adik PKM yang ikut, tapi karena kesalahan Aku, jadi semuanya gagal berantakan :(
Pulang-pulang aku masuk angin, nyampe Sekarang
5. Beberapa waktu terakhir ini aku jadi orang paling pesimis sedunia.Ya, rasanya semua yang sebelumnya aku yakini bisa, terhalang jurang yang sebelumnya gak keliatan. Aku gabisa sampai di tujuan :(
6. Sedih, kangen Ayah
7. Dan, ada banyak kisah yang gak bisa kutulis, tentang Ibu, tentang keluargaku semuanya
Aku berharap dirimu selalu dalam lindungan dan jalan-Nya, amin
Sahabat, maafkan Aku jika aku sudah mulai aneh, maafkan jika dirimu merasa aku mulai berjarak. Sesungguhnya aku tak pernah mencoba mencipta jarak, tapi memang ada batas diantara kita, batas yang kupikir, semakin kita tumbuh dewasa, batas itu semakin jelas, bukan batas pemisah, tapi batas penjaga.
Sahabat, maafkan jika mungkin aku akan jarang telpon berjam-jam, maafkan tak ada lagi cacian atau cerewetnya aku di hari-hari mu sahabat. Semua yang aku ingin sampaikan padamu, akan kusampaikan melalui tulisan-tulisanku, yang jika ada yang ingin kusampaikan, maka aku akan menulis pesan persahabatan disini, untukmu, sahabatku. Untuk itu, sesekali jika dirimu ingin mengunjungiku, kunjungilah tulisanku, maka aku ada.
Teruntuk sahabat yang jauh disana, yang sama denganku, jauh dari semua kehidupan yang nyaman, yang sama denganku, jauh dari sahabatnya. Untukmu yang sedang berjuang, aku (lagi-lagi) ingin mengingatkanmu tentang impian, apa kah dirimu sudah bosan dengan hal ini? biarlah, aku tetap akan membahasnya. :p
Kamu harus tau bahwa ratusan mimpi yang aku tulis itu karena aku tak ingin kalah darimu. Saat itu, aku melihat dirimu adalah orang yang penuh perncanaan, pertimbangan dan aku melihat dirimu memiliki visi, cita-cita, impian. dari itulah aku mulai coba mencari tujuanku, mulai coba menulis apa yang akan aku capai.
Sahabat, ketahuilah, aku, jika ada kesempatan itu untukku, akan kubawakan bunga terindah untukmu dihari kelulusanmu, insyaAllah. Maka itu, berjuanglah! Berjuanglah didatangi bidadari dihari wisudaanmu, hehe :p Kalau fans aku susah tu minta aku datang wisudaanya. Nah dirimu, asal lulus, didatangi bidadari!
Tak banyak celotehku hari ini, ohiya, aku berpesan, jika dirimu ingin bercerita,berceritalah pada kertas atau ms.word, siapa tau someday tulisan itu dibuku kan, aku jadi orang pertama yang beli bukumu! :) Tenang, Aku tetap akan mendengarkan ceritamu sahabat, tulislah, maka aku akan menanggapinya, melalui tulisanku juga.
-Semua perjuangan, rasa sakit yang mendera, rindu yang menyiksa dan jarak yang membuat jauh dari semua, jangan jadikan beban! Jadikan ini semua sebagai tebusan! Ya! Tebusan! Pastikan di hari esok, dirimu, dengan penuh haru, dalam keadaan terbaik, mengatakan "dulu saat kuliah, saya... " -
Jadikanlah kehadiranmu sebagai cahaya untuk orang-orang disekelilingmu, jadikanlah dirimu pribadi penuh kebermanfaatan, yang kehadirannya disenangi, ketidakhadirannya dirindukan
Saksikanlah, inilah Aku, anak ragil yang memang begini adanya, seperti kata orang kebanyakan, anak ragil itu cengeng, manja, rewel, dan sebagainya. Akutidak bisa menerima begitu saja, tetapi aku juga tidak bisa memungkirinya. Inilah aku, yang selalu coba mematahkan anggapan apapun tentang anak ragil, anggapan bahwa anak ragil itu manja, anggapan bahwa anak ragil itu tidak bisa apa-apa, anggapan bahwa anak rigil itu bisanya cuma nangis dan rewel meminta. Aku mencoba mematahkan itu.
Tapi apa daya, itu tak lain ibarat anak ayam mencoba terbang, yah, anak ayam, dia memang punya sayap, tapi dia tetaplah anak ayam. Seperti itulah aku, setegar apapun aku berjuang, aku kembali pada karakter yang sudah melekat pada diriku : manja dan menangis.
Ibu, ini anakmu, yang tetap manja tapi tak ada yang memanjakan. Ibu, ini anakmu, yang tetap cengeng tapi tak ada tempat peraduan. Ibu, ini anakmu, yang mengetik namamu saja rinduku tak tertahankan.
Hari ini, aku mencari banyak hal, banyak sekali, yang intinya semua hal yang kucari ini adalah : mencari kesempatan untuk bisa menangis dihadapan umum. Dan mencari jalan untuk bisa membuatmu menangis didepan umum. Maafkan niat jahatku ini Bu, aku sungguh-sungguh encari jalan untuk bisa membuat mu menangis.
Berbagai cara kucoba, dan sepertinya jalan yang kulalui ini kurang banyak, masih jauh dari pencapaian, masih belum tercapai harapanku untuk memnangis dan membuatmu menangis didepan umum. Ibu, ketahuilah, sesungguhnya aku bosan melihatmu menangis diam-diam. Aku pun bosan menangis diam-diam. Aku ingin dunia melihat tangisan kita. maka aku berjuang untuk itu.
Siang ini, perjuangan PKM ku sudah hampir diujung jalan, tapi saat aku mengevaluasi diri, rasanya pencapaian kami hanya mencapai 40%, Ibu, aku ingin diundang PIMNAS, sepertinya ini peluang untuk menangis didepan umum, mungkinkah kami pantas diundang PIMNAS jika pencapaian kami hanya sekecil ini? Sayangnya, belum sempat aku menangis didepan umum, aku sudah menangis dahulu didepan layar ini, Aku melihat video-video mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk PIMNAS juga, mereka melakukan usaha yang jauh luarbiasa lebih penuh perjuangan. Maka aku kembali bertanya pada diriku, pantaskah aku? Ibu, Aku melihat video saat pelaksanaan PIMNAS di UNDIP tahun lalu, aku menangis prematur, aku menangis karena pertanyaan "Mungkinkah aku termasuk diantara orang-orang ini di PIMNAS nanti?"
Ibu, terlepas dari semua, izinkan aku membuatmu menangis, meski hanya dengan melihat videoku nanti, aku ingin menyebut namamu jika aku mendapatkan kesempatan berbicara didepan. Aku bukan hanya menargetkan PIMNAS, Aku menargetkan mendapat emas, sehingga atas emas yang aku dapat, aku berharap diizinkan berbicara didepan sekedar untuk berterimakasih padamu, Ibu.
"Mba Tina itu kalau ada Mas Yandra rajin sekali masak dek, pagi-pagi, dapur udah harum sambel bawang, jam 10 udah klotek-klotek lagi didapur, terus nanti jam empat udah mulai buka kulkas mau masak lagi, kalo masak sendiri itu ibu lebih seneng rasa masakannya" Ibu bercerita.
Seperti biasa, aku selalu mendengarkan dengan khidmat setiap cerita yang Ibu ceritakan, meski itu cerita yang sudah ibu ceritakan sekitar tujuh kali dalam dua minggu terakhir. Akulah Dee, Dhia Syarafana, orangtua ku menamaiku demikian berharap aku menjadi "cahaya kemuliaan" untuk keluarga kami, di hari kemudian. Aku anak ke 5 dari 5 bersaudara, Ibu sedang sakit dan Ayah sudah pergi, untuk membangun rumah kami di sana, supaya saat kami datang, rumah kami sudah siap huni, itu yang selalu Ibu katakan padaku.
Akulah anak terakhir, yang menjadi tanggungan untuk 4 kakak ku beserta pasangan hidupnya, (menurutku) begitu kira-kira hadirku bagi mereka. Darimana aku harus mulai bercerita tentang perjalanan panjang nan singkat ini?
Baiklah, aku akan memulai dengan kelanjutan dari percakapan hangat sore ini.
"Memangnya setiap akhir pekan Mas Yandra selalu pualang Bu? Jakarta-Lampung kan jauh Bu, apa gak capek mas yandra itu bolak-balik tiap minggu?"
"Iya masnya pulang tiap minggu, ya wajar tho ndok kalo masnya pulang, namanya juga punya anak kecil, pasti selalu kangen, apalagi dede Aini kan baru bisa ngomong, meskipun kata-katanya belum jelas, dengerin suara anak itu jadi obat untuk semua lelah dan penat, suatu hari kamu akan rasakan"
Mengharukan, penuh makna. Itu jawaban paling tulus seorang Ibu, hal itu mengingatkan aku pada pemandangan yang aku lihat saat pulang kampung beberapa bulan lalu, saat Ibu duduk di depan pintu dapur, memandangi anak pertama dan ketiga sedang sibuk memasak didapur sambil dengan penuh semangat bercerita banyak hal, tentang kejadian yang beliau lihat saat di pasar, tentang tetangga kami yang baru saja membeli kambing dengan harga cukup murah, atau sekedar bercerita tentang harga cabai yang menggila. Tapi apa yang aku lihat dari kakak-kakak ku? Mereka begitu sibuk dengan masakan mereka, mereka hanya terfokus pada masakan yang harus segera matang di pagi hari, dengan rasa yang enak dan bisa terhidang di warung sarapan kami se-pagi mungkin.
Kakak-kakak ku sama sekali tidak pedulikan cerita yang ibu ceritakan dengan begitu semangatnya, mungkin karena itu cerita yang hampir sama yang harus mereka dengar selama bertahun lamanya. Dan pemandangan yang sama (juga) adalah, Ibu tetap menceritakan semuanya dengan tetap tersenyum dan sesekali ia menyelipka tawa nan renyah dan hangat,tetap diabaikan.
*
"ndok, ndok kok diem? suara Ibu kedengeran gak?" panggilan Ibu sadarkan ku tentang memori menyedihkan itu.
"eh.. e.. ehh.. kedengeran kok Bu, iya, eh, emang Mba Tina dimana sekarang Bu? ada dirumah?"
"gak, kerja"
"dedek aini nya kemana? kok gak kedengeran ada suaranya Bu?"
"Gak ada orang dirumah, Ibu sendirian, makanya Ibu telpon kamu"
Deg. Sejenak waktu berhenti berdetik. Begitu sengsaranya hatiku membayangkan Ibuku yang sudah tua dan sedang sakit itu sendirian dirumah? Ya Allah, pulangkan aku sekarang, atau antarkan Ibu padaku sekarang juga, biar kurawat beliau, biar kutemani, aku ajak kekampus saat aku kuliah, aku ajak pada setiap kegiatan organisasiku, takkan kubiarkan beliau sendirian, dan supaya beliau tak jenuh hanya memandangi dinding dan plafon rumah.
"Kak, udah selesai telponnya? Jadi kan kita beli buku?" tiba-tiba adik kos ku menyentuh punggungku dan aku langsung berkata tanpa suara yang mengisyarakan nanti dulu ya"Ibu udah makan?" pertanyaanku mencoba mengalihkan topik, aku sedang tidak ingin bersedih hari ini. Aku sedang berusaha untuk tidak lagi bersedih.
"Udah, tadi pas makan siang Mba Tina pulang bawain tongseng ayam, sama bawa buah, kamu udah makan ndok?"
"Aku, aku udah makan Bu, tadi aku goreng telur kecap, enak banget bu. Tapi pasti lebih enak tongseng ayamnya kan Bu? "
"Sejak kapan kamu boleh makan telur lagi ndok? itu alergi kamu nanti bisa kumat lagi, awas lho kalo lebaran besok ibu liat kamu alerginya kumat, gak tak kasih amplop lebaran nanti! Mana mungkin Ibu bisa makan enak kalo anak ibu aja disana makan makanan yang gak boleh dimakan" Suara Ibu melemah, seperti ada isak tertahan di setiap akhir katanya.
Demi mendengar isak tertahan itu, aku mencoba mengalihkan topik. "Oh iya Bu, lagi ada bazar buku, aku boleh beli buku ya, tenang, aku udah beli baju baru kok, jadi aku tetep anak Ibu yang selalu tampil cantik dan gak malu-maluin, hehe"
"Yaudah kalo mau beli, asal kertas yang untuk belinya ada, maafin Ibu gak bisa lagi kasih kamu uang, Ibu punya uang malahan untuk beli kursi roda, padahal Ibu jarang pakai, dan padahal kamu disana jauh lebih butuh, maafin Ibu ya ndok"
Ah. Gagal nih usahaku, gak sepenuhnya gagal sih, topik teralihkan, tapi suasana hati ternyata gak bisa berubah cepat menjadi ceria lagi. Adik kos ku masih dengan setia menunggu, sudah hampir setengah jam kami bercerita di telpon. Sebenarnnya aku kasihan membuat adikku menunggu, tetapi pantang untuk aku mengakhiri telpon dari Ibu.
Sampai satu jam kemudian Ibu mengakhiri telpon karena sudah saatnya mandi. Aku dan adikku segera meluncur ke lokasi bazar buku, dengan pikiran mengawang, membayangkan bagaimana Ibuku yang sudah tua dan tangan yang lemah itu melakukan semuanya sendiri, sendiri, sendiri.
----------------------------------------to be continue
ya, nanti yang sering kuucapkan menyebabkan aku akhirnya tak pernah menulis apapun. Padahal yang ada dikepala rasanya ingin semua kutumpahkan, meski ada beberapa hal yang aku mau tak ada orang lain yang tau. Tahukah kamu Den's, selalu ada pelajaran dalam setiap kegiatan yang aku lakuin, dimanapun, kapanpun. Dalam semua kegiatan yang aku lakukan, aku begitu yakin Allah terlibat dan menyaksikan kesemuanya itu. Dan yang selalu ada dikepala ku juga, aku ingin kalian mendapatkan pelajaran yang sama, aku ingin kalian tahu dan bisa mengambil hikmah.
Lalu kenapa tak kutuliskan semua itu? Jawabannya adalah "karena nanti". Jadi gini, aku, selalu berharap suatu hari nanti aku akan memiliki beberapa buku hasil karanganku. Impian yang begitu umum, tanpa targetan waktu, tanpa keterangan buku apa yang aku akan tulis, sampai aku sendiri sulit mendeteksi kapan impian ini bakal terwujud kalo isinya umum banget begini. Yah, aku mohon maklumatnya, masih awam banget, masih belum bisa membagi waktu ku untuk ini dan untuk itu.
Aku sedikit menyarankan (untuk diriku sendiri juga) pada siapapun yang ingin menulis buku: MENULISLAH. Apapun itu, tulislah! Tulis semua yang ingin kalian tulis, aku pernah mempraktikkan ini, berhasil, bahwa disetiap sela kegiatan, aku menuliskan semua hal yang bisa aku tulis, kemudian malam hari nya kuketik ulang, jadilah postingan penuh semangat. Tapi karena beberapa alasan, aku tak melanjutkan itu, sekali lagi, aku hanya manusia yang sedikit sekali benarnya.
Baiklah, jangan ambil kesimpulan apapun dari tulisan ini, karena sepertinya aku memang tak menuliskannya, aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. Aku sedang berusaha merajinkan diriku pada menulis, meski hanya satu paragraf, atau hanya satu kalimat, aku akan tetap menuliskannya.
Ini adalah waktu yang aku sulit bagaimana menerjemahkannya. Aku melihat hal yang tak terlihat, merasakan hal yang tak berasa, mendengar hampa.
Pembaca, kalian akan dibuat bingung oleh kebingunganku. Kalian tak akan menemukan penemuan apapun. Tak ada mention disini, aku hanya ingin tuliskan apa kata yang terlintas beberapa mili-detik sebelum aku mengetiknya.
Aku sedang mencari jawaban untuk sebuah pertanyaan "merindukah ini?"
Aku hanya ingin menikmati setiap sakit yang rinduku buat, indah rasanya, ia menyiksaku yang tak pernah merasa tersiksa. Rindu selalu saja membingungkanku tanpa jawaban dari pertanyaan "bagaimana bisa?"
Apa kau mulai tak mengerti kemana tulisan ini bermuara? Ya, itulah rinduku
Aku merasakann meski ia tak terlihat, bukan berarti ia tak ada
Dalam kehidupan ini memang banyak hal yang tak terlihat, bukan?
tahukah?
aku sampai kehabisan akal untuk menjelaskannya
bingung untuk menganalogikan kebingunganku
tak ada perumpamaan yang bisa mengumpamakan
tentang rindu
rindu ini ada
aku pemiliknya
tapi
tak ada tujuannya
apakah ada aliran sungai tak bermuara?
tidak ada?
maka bukan itu perumpamaan rinduku
apakah ada ruangan tak berudara didalamnya?
tidak ada?
bukan itu rinduku
Jika kalian tak mengerti semua penjelasan ini
Ya, itulah rinduku
Bulan sabit yang jatuh dipelataran bintang reedup tanpa cahaya gemintang langkah tanpa arah, hilang dijalan yang terang aku yang terlena dibuai pelukan dosa
Merindu yang tak merindu
Mengenang yang telah hilang
Mencinta yang tak lagi ada
dan
Menyesali semua kenangan indah
Janji mu tertunaikan
Dirimulah lelaki paling tepat janji
Ingatkan kau akan janji itu? Janji untuk mengubah setiap jengkal bahagia
menjadi luka dan derai air mata?
Kemarilah, Sayang
Saksikanlah aku luka
Saksikanlah
Aku yang lemah ini
sedang mengingat mu
ataupun sedang mencoba lupakanmu
aku lemah dan menangis
Hei cantik
Matamu merah
Kantung matamu sembab
Dan.. Wajahmu pucat
Kenapa?
Ada apa denganmu, cantikku?
Kamu seperti sedang sedih
dirimu seperti sedang sakit
ataukah sedang ada masalah?
Hei,
Semangat apa ini? Semangat apa yang kau tularkan padaku?
Aku merasa aku tak bisa berhenti
Aku tak bisa izinkan tubuh ku berdiam
Menatap dirimu dalam cerminku
Aku melihat sesuatu : KEMENANGAN
Yah! Kemenangan yang luarbiasa
aku melihat kemenangan yang berada ditengah danau
danau yang penuh kesulitan
aku sadar apa ini
aku sadar kenapa diriku tak izinkan diriku berhenti
Dan untuk semua mimpi
Aku percaya
Malaikat sudah sampaikan mimpiku pada Illahi
untuk kelak menjadi cerita inspirasi
Terimakasih (lagi) untukmu, capuccino..
Minuman yang sejak pulang kampung aku jadi sangat menyukaimu
Kembali malam ini kamu temani indah malamku
Bersama sahut-sahutan suara kodok di kolam belakang rumah
Dingin tak hinggap dikulitku,
Tapi dihati
Tung tung tung tung
Begitu kira-kira suara kodok jika dituliskan
Nyanyian alam nan indah
Membawaku kembali pada satu waktu yang hangat dimasalalu
Pada suatu senja disebuah rumah nan sederhana, beriring gerimis dan matilampu
"Ayah, itu suara apa?" Tanya aku kecil pada Ayah yang sedang meminum kopi susu, minuman kesukaan beliau kala itu..
"Oh, itu suara kodok, emang sebelumnya belum pernah dengar ya?" Jawab ayah pada aku kecil, lanjutkan minumnya, kemudian letakkan gelas itu ke meja
"Belum Yah, suara kodok kok serem gitu ya?"
"Sayang.. Ayo ikut Ayah" jawab ayah sambil genggam lembut tanganku (ah, genggaman ini masih kuingat hangatnya)
Disanalah kami..
Ditepi kolam ikan, dibawah langit jingga, sedikit gerimis dan pisang goreng ditanganku, kami duduk, aku dan ayah..
"Sayang.. Pernah cobain rasa angin?"
Aku menggeleng
"Pernah nyicip rasa ujan
Aku menggeleng
Sebenarnya aku menggeleng karena merasa ayah sedang membawaku ke suasana yang kikuk, kaku menurutku, dan Ayah mengerti itu
"Coba merem.." Kata ayah (merem = mejem = pejam mata)
"Nafas yang panjaaang.. Dengar suara kodoknya.. Dengar suara tetesan airnya.. Dengar hembusan lembut angin .. Dan tersenyumlah.. Ayo senyum, gadis cantik ayah harus terus tersenyum, suara kodok yang serem, atau matilampu yang menakutkan, semua itu jadi terasa buruk karena kamu ga menikmatinya.. Cobalah untuk selalu tenang, istighfar, bersyukur, maka apapun yang sedang terjadi, itu menjadi indah.. Ingat, Laa Tahzan innallaha ma'anaa"
Kenangan itu, membuatku tersenyum sedih.. Pak Wahidin adalah lelaki terhebat, tauladan nomor dua setelah Rasulullaah S.A.W..
Tangisan mengenang Ayah, menghangatkan hati, dan mendinginkan kopi
Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'aafihi, wa'fuanhu..
Ayah .. semoga kita bertemu di syurga-Nya
Seperti apa aku harus berdoa
Ketika marah telah sampai di puncak kepala
Bingung melanda
Gusar
Sedih
Terluka
Pada apa aku harus mengusap tetesan mutiara
Pada apa aku akan meminta perhatian
Pada apa aku bisa bercerita dan berkeluh kesah
Pada siapakah lagi aku bisa merajuk manja
Angin tak datang
Cahaya telah hilang
Lalu siapa lagi?
Apalagi yang akan temani?
Hanya caci!
Maki!
Sepi!
Mereka yang sejatinya menjadi musuh
Kini adalah sahabat setia
Beliau tak meminta, tapi sudah kubaca semua cerita yang beliau tulis. Pemikiran luar biasa, sama seperti prasangkaku tentangnya.
Tahukah?
Aku selalu berdoa beliau akan dengar seluruh ceritaku kelak tentang doa, pengharapan dan perjuangan, mungkin hal kecil baginya, tapi ini terbaik yang ku mampu.
Cerita penuh haru, ditempat yang kami tak pernah tahu
Ya Allah, aku percaya
Aku pasrahkan seluruh hati
Tanpa tapi, tanpa kecuali
Nasihat untuk siapapun yang mau teriakkan bangkit pada dirinya..
Bicara tentang manusia super.. Maka kita kan bicara tentang seseorang yang mampu menaklukan dirinya sendiri..
Menaklukkan rasa malas.. Menaklukan jiwa yang terlalu mudah menyerah terhadap rasa lelah.. Menaklukkan sikap pasrah.. Padahal ia belum menggapai apa yang semestinya ia capai..
Kulihat dan aku pun berfikir tentang mereka..
Professor ada bukanlah lantaran hanya karena mereka cerdas... Para penemu pun lahir bukanlah karena mereka jenius...
Sejatinya mereka ada lantaran karena kesungguhan...
Ia bukanlah tentang bakat ataupun talenta..
Ia bukanlah tentang suatu hal yang sudah ada begitu saja..
Bukan sesuatu yang langsung ada sejak dilahirkan..
Melainkan ia tentang kebiasaan yang kau ciptakan..
Ia dibentuk dari pemikiran...
Pemikiran yang pengaruhi apa yang kau ucapkan..
Ucapan pengaruhi apa yang akan kau lakukan..
Apa yang kau lakukan lama-lama menjadi kebiasaan..
Habit itu dibentuk...
Memang tidaklah mudah, namun sungguh bisa jadi seperti apapun yang kau mau..
Dengan kesungguhan yang ada di dadamu..
Percayalah padaku...
Kau bisa jauh lebih hebat dari mereka..
Menjadi sesuatu yang tak pernah mereka duga.. Sesuatu hal yang benar-benar luar biasa..
Kenapa?
Karena Allah telah sebutkan dalam firman-Nya
"Sesunguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah kebiasaan mereka sendiri" (Q.S Ar Ra'd : 11)
Ku percaya padamu..
Kamu pasti bisa..
Apalagi saat kau benar-benar menginginkannya...