Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi? Mengapa ini yang terjadi?
Potongan lagu Melly Goeslaw ini menarik menurutku, di lagu ini secara keseluruhan intinya jangan sampai perbedaan menjadi pemisah, karena perbedaan itu adalah pelengkap. Kepingan puzzle pun harus berbeda untuk bisa dipasangkan. Oh iya, jangan sampai salah fokus. Postingan ini bukan untuk bercerita tentang percintaan, bukan. Ini adalah apa yang sering kita lihat disekitar, karena hidup tidak melulu bercerita cinta.
Tepatnya kemarin, saat aku menghadiri diskusi umum mahasiswa yang membahas tentang pergerakan Mahasiswa, dihadiri dua narasumber yang memang berkompeten di bidang pergerakan dan berkecimpung banyak dalam pergerakan. Dua narasumber ini memiliki jejak yang luarbiasa dalam sejarah pergerakan.
Yang menarik dari dua pemateri ini, mereka menerjemahkan pergerakan dari dua sudut pandang yang berberda. Narasumber A menekankan pergerakan, aksi mahasiswa dan audiensi kepada pemerintah lebih kepada penekanan, tekanan pada pemerintah itulah yang harus lebih dikuatkan, semakin pemeritah tertekan, maka aspirasi akan lebih terperhatikan. Sementara narasumber B menasihati untuk mahasiswa tidak harus selalu berteriak teriak, karena status Maha yang kita miliki adalah kekuatan, kita bisa berbicara baik-baik dan membicarakan dengan baik-baik, maka dengan cara itu, yang kita sampaikan akan lebih di perhatikan.
Pernyatan tersebut disanggah lagi oleh narasumber A, "Bicara baik-baik? Mereka memang mengajak kita berbicara baik-baik, tapi hal yang kita sampaikan ataupun draft usulan yang kita punya hanya akan masuk tong sampah tanpa mereka pelajari sebelumnya. Kalian mau membawa apa? Rancangan usulan? Mustahil diterima! Mereka punya staff profesional yang jauh lebih berkompeten, lulusan S2 dan S3 untuk membuat draft rancangan! Itu saja masih kacau sana sini, apalagi usulan buatan kita? Dibuat oleh Mahasiswa yang S1-nya saja belum lulus, hanya dalam waktu satu malam sebelum advokasi. Haha. Nol."
Narasumber B menjawab lagi "Mahasiswa sebagai social control, masa' kontrol diri sendiri aja gak bisa, masih pakai cara tradisional, demo. Oke, anggaplah kita turun aksi dengan membawa 15.000 mahasiswa se-Indonesia lainnya medesak pemerintah menurunkan harga bbm, apakah bbm akan pasti turun? belum tentu kan? Udah gitu, diantara mahasiswa yang aksi, pas ada salah satu orang yang dipilih secara acak untuk diwwancarai oleh wartawan, ditanya itu aksi apa, didepan kamera, didepan jutaan warga dia mengatakan 'gak tau, saya mah ikut aja' Nah! bukankah itu percuma? Jangankan sampe masyarakat luas, yang demo aja gak tau mau ngapain"
Diskusi semakin menarik, penonton dan suasana duskusi makin panas, sepertinya penonton lain melihat bahwa panitia salah mencari narasumber, ini dua narasumber malah saling adu pendapat. Tapi aku melihat hal yang berbeda, menarik, Kita diajak untuk melihat semuanya dari berbagai sudut, tentang pergerakan ini, bahwa ada banyak hal rupanya yang sering terjadi dalam praktiknya, namun begitu, perbedaan memang akan selalu ada, yang terpenting, jangan ada perpecahan karena perbedaan, tujuan kita sama : INDONESIA ADIDAYA.