Pesta Perayaan

June 19, 2015

Malam ini, sama seperti malam biasanya
Duduk menyendiri, sepi
Menatap bintang-bintang yang berdansa dengan romantis
Mendengar angin, yang berbisik pelan, mesra
Menghirup udara yang bersih, menenangkan

Malam ini, sama seperti malam biasanya
Duduk menyendiri, sepi
Menanti kabar yang tak kunjung datang
Menunggu sebuah jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap
Bersama alam yang tenang
Aku menikmati malam yang luar biasa
Seperti biasanya

Aku merindu
Merindukan sosok yang belum pernah aku membayangkan
Merindukan sebuah ketenangan akan kepastian
Wahai Dzat Yang menganugerahkan rindu
Kabarkanlah pada dia yang kurindukan
yang belum aku tahu siapa gerangan
yang hanya Dirimu lah yang mengetahui
Aku ingin merayakan rindu kami

Dua Sudut

June 05, 2015

Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi? Mengapa ini yang terjadi?

Potongan lagu Melly Goeslaw ini menarik menurutku, di lagu ini secara keseluruhan intinya jangan sampai perbedaan menjadi pemisah, karena perbedaan itu adalah pelengkap. Kepingan puzzle pun harus berbeda untuk bisa dipasangkan. Oh iya, jangan sampai salah fokus. Postingan ini bukan untuk bercerita tentang percintaan, bukan. Ini adalah apa yang sering kita lihat disekitar, karena hidup tidak melulu bercerita cinta.

Tepatnya kemarin, saat aku menghadiri diskusi umum mahasiswa yang membahas tentang pergerakan Mahasiswa, dihadiri dua narasumber yang memang berkompeten di bidang pergerakan dan berkecimpung banyak dalam pergerakan. Dua narasumber ini memiliki jejak yang luarbiasa dalam sejarah pergerakan.

Yang menarik dari dua pemateri ini, mereka menerjemahkan pergerakan dari dua sudut pandang yang berberda. Narasumber A menekankan pergerakan, aksi mahasiswa dan audiensi kepada pemerintah lebih kepada penekanan, tekanan pada pemerintah itulah yang harus lebih dikuatkan, semakin pemeritah tertekan, maka aspirasi akan lebih terperhatikan. Sementara narasumber B menasihati untuk mahasiswa tidak harus selalu berteriak teriak, karena status Maha yang kita miliki adalah kekuatan, kita bisa berbicara baik-baik dan membicarakan dengan baik-baik, maka dengan cara itu, yang kita sampaikan akan lebih di perhatikan.

Pernyatan tersebut disanggah lagi oleh narasumber A, "Bicara baik-baik? Mereka memang mengajak kita berbicara baik-baik, tapi hal yang kita sampaikan ataupun draft usulan yang kita punya hanya akan masuk tong sampah tanpa mereka pelajari sebelumnya. Kalian mau membawa apa? Rancangan usulan? Mustahil diterima! Mereka punya staff profesional yang jauh lebih berkompeten, lulusan S2 dan S3 untuk membuat draft rancangan! Itu saja masih kacau sana sini, apalagi usulan buatan kita? Dibuat oleh Mahasiswa yang S1-nya saja belum lulus, hanya dalam waktu satu malam sebelum advokasi. Haha. Nol."

Narasumber B menjawab lagi "Mahasiswa sebagai social control, masa' kontrol diri sendiri aja gak bisa, masih pakai cara tradisional, demo. Oke, anggaplah kita turun aksi dengan membawa 15.000 mahasiswa se-Indonesia lainnya medesak pemerintah menurunkan harga bbm, apakah bbm akan pasti turun? belum tentu kan? Udah gitu, diantara mahasiswa yang aksi, pas ada salah satu orang yang dipilih secara acak untuk diwwancarai oleh wartawan, ditanya itu aksi apa, didepan kamera, didepan jutaan warga dia mengatakan 'gak tau, saya mah ikut aja'  Nah! bukankah itu percuma? Jangankan sampe masyarakat luas, yang demo aja gak tau mau ngapain"

Diskusi semakin menarik, penonton dan suasana duskusi makin panas, sepertinya penonton lain melihat bahwa panitia salah mencari narasumber, ini dua narasumber malah saling adu pendapat. Tapi aku melihat hal yang berbeda, menarik, Kita diajak untuk melihat semuanya dari berbagai sudut, tentang pergerakan ini, bahwa ada banyak hal rupanya yang sering terjadi dalam praktiknya, namun begitu, perbedaan memang akan selalu ada, yang terpenting, jangan ada perpecahan karena perbedaan, tujuan kita sama : INDONESIA ADIDAYA.

Tuju Empat Enam

June 01, 2015

Ini adalah kode rahasia yang berhasil kudapatkan dari seorang rahasia. Kamu tau kode apa ini? Ini adalah kode untuk membuka rasa kangenku, dengan kode ini, sorang tersebut membuatku tak sabaran ingin cepat pulang.
Dialah adenaya, keponakan yang bulan ini adalah bulan ke 22 ia tersenyum didunia.

Adenaya, lahir pada tanggal (aku lupa tanggalnya) Augustus 2013. Tepat saat aku menelpon kerumah until mengabari bahwa pesawat yang kunaiki baru saja landing dikampung halaman terciptanya rendang, saat itu juga aku mendengar kabar kelahiran sikecil merah nan imut ini. Kamu tau? Akibatnya, aku harus bersabar menanti waktu liburan untuk bisa mencubit pipinya

Jadilah gadget sebagai obat pelepas rinduku, memantau perkembangannya Dari gambar ake gambar. Inilah cara paling modern saat ini (yang aku bisa). Mungkin sebaiknya aku segera menjadi ilmuwan, menemukan pintu ajaib. Agar aku bisa dengan mudah pulang hanya until melihat apakah hari ini ada Gigi yang baru tumbuh lagi atau hanya mengolesi minyak kayu Putih pada kulit halusnya yang tadi malam digigit nyamuk.

Oh adenaya Ku sayang sekarang ia semakin cerdas, pandai berhitung, saat ada dua HP didepannya, ia menghitung "empat enam tucu" dengan suara melengking, lalu setelah ditanya "ada berapa HP nya? "Dua"

Kamu tau? Rasanya ingin segera pulang mencubit pipinya hingga ia menangis dan mengadukan aku pada bundanya, sesegera mungkin.
Tapi apadaya, mempersiapkan diri untk masa depan yang bisa kulakukan ya dengan cara ini,
Merindu Dari kejauhan, dan berdoa, semoga mereka semua selalu dalam lindungan-Nya.. Aamiin
 

Den's Visitor

Most Reading