Aku, atau mungkin kita, seringkali merasa sebal saat ibu, dengan nada menyebalkannya menasihati kita hal yang itu itu saja. Mengulang kalimat yang selalu sama.
Tapi menarik, saat aku, dengan sebal yang membuncah, tetap berusaha mengambil kebaikan dari nasihat yang beliau ucapkan.
Kita tau, sangat paham bahwa tak ada orangtua yang menginginkan anaknya melakukan keburukan atau mengalami hal yang buruk.
Tentang cinta misalnya, aku pikir, tentang ini ibu sangat benar, berikut beberapa nasihat yang selalu berulang
"Jangan terlalu senang karena bisa mencintai, cobalah untuk diam sampai kamu yang dicintai"
"Kenapa kamu harus kerumahnya?! Bukankah bisa aja dia yang main kesini?! Apa masih kurang bukti untuk kamu bisa sadar bahwa dia gak mencintai kamu? Kamu tau, sekarang dia sudah membuktikan bahwa kamulah yang ngebet sama dia"
"Kenapa harus ketemuan diluar? Bukankah kalian bisa ngobrol dirumah? Bukankah kalian selalu komunikasi di hp?"
"Ngapain kamu harus kerumah sodaranya? Apa kamu pikir dia sedang mengenalkan kamu ke keluarganya dan kamu berpikir dia sedang menunjukkan keseriusannya? Salah kamu."
"Ndok, cobaannya laki-laki itu perempuan, dan cobaannya permpuan itu laki-laki. Kamu cuma perlu sabar, sakit itu biasa kok, tapi ya kamu bebas milih, kamu mau kalah atau menang dari perasaan itu?"
ini apa
Sosial media bukanlah tempat untuk kita curhat. Aku rasa aku tau itu, maka sebisa mungkin aku menghindarinya.
Apa apa yang aku tulis tak selalu apa yang sedang terjadi. Aku menyimpan beberapa draft untuk diposting, bisa jadi aku post tentang kebahagiaan saat aku sedang sedih, ataupun sebaliknya.
Aku ingin lari. Menjauh, sejauh yang aku mampu. Pergi dari perasaan yang begitu membingungkan. Kebingungan yang kita sendiri yang membuatnya.
Kalau cinta itu kebahagiaan, kenapa kita tersiksa dengan segala rasa yang menjadi pelengkapnya? Cemburu, gelisah, resah, dan terabaikan.
Manusia seringkali bingung oleh kebingungannya sendiri.
Seperti inilah, wanita, makhluk kepastian. Tak ingin di-PHP, namun memilih menjalani hubungan tak berkejelasan.
Aku jadi terkesan mendesak, memaksa seseorang yang sedang bingung apakah dia mencintaiku atau tidak untuk menikahiku. Ya, menikah. Membuat pasti semua ketidakpastian. Memperjelas semua ketidakjelasan.
Sekali lagi, tak perlu mencari kesimpulan dalam tulisan ini, karena aku tak menuliskannya.
Apa apa yang aku tulis tak selalu apa yang sedang terjadi. Aku menyimpan beberapa draft untuk diposting, bisa jadi aku post tentang kebahagiaan saat aku sedang sedih, ataupun sebaliknya.
Aku ingin lari. Menjauh, sejauh yang aku mampu. Pergi dari perasaan yang begitu membingungkan. Kebingungan yang kita sendiri yang membuatnya.
Kalau cinta itu kebahagiaan, kenapa kita tersiksa dengan segala rasa yang menjadi pelengkapnya? Cemburu, gelisah, resah, dan terabaikan.
Manusia seringkali bingung oleh kebingungannya sendiri.
Seperti inilah, wanita, makhluk kepastian. Tak ingin di-PHP, namun memilih menjalani hubungan tak berkejelasan.
Aku jadi terkesan mendesak, memaksa seseorang yang sedang bingung apakah dia mencintaiku atau tidak untuk menikahiku. Ya, menikah. Membuat pasti semua ketidakpastian. Memperjelas semua ketidakjelasan.
Sekali lagi, tak perlu mencari kesimpulan dalam tulisan ini, karena aku tak menuliskannya.
Masaku
Dirimu adalah inspirasi yang selalu aku tulis
Dan aku adalah kertas yang tak pernah engkau baca.
AK. Aku telah memutuskan untuk menunggu
Sudah kusampaikan padamu
Dan sudah kukuatkan tekad dalam diriku
Datanglah, jika memang aku yang kau inginkan
Tapi jika bukan
Aku akan menghentikan penantian
Tanpa berhenti mencintaimu
Dan aku adalah kertas yang tak pernah engkau baca.
AK. Aku telah memutuskan untuk menunggu
Sudah kusampaikan padamu
Dan sudah kukuatkan tekad dalam diriku
Datanglah, jika memang aku yang kau inginkan
Tapi jika bukan
Aku akan menghentikan penantian
Tanpa berhenti mencintaimu
Subscribe to:
Comments (Atom)