Seperti tagline yang aku tulis di header blog ini, bahwa blog ini adalah (the place where we share some words), maka seperti itulah adanya, postingan kali ini aku mau ngajak Den's sekalian diskusi tentang peran perempuan era modern, lebih khususnya, peran Perempuan Muslim (baca:Muslimah) di era modern.
Sejak zaman Perjuangan kartini, kita, perempuan Indonesia sudah seringkali dicekoki dengan yang namanya emansipasi, bahwa perempuan berhak menyenyam pendidikan yang lebih tinggi, bahwa perempuan berhak memegang peran dalam pembangunan negara, bahwa tidak boleh ada diskriminasi gender. Aku tidak sepenuhnya setuju, tidak juga sepenuhnya menolak, hanya pada beberapa poin aku kurang sepakat dengan ide antimainstream Bu Kartini dijamannya ini.
Kalau tentang pendidikan, posisi dan peran, aku sih setuju aja, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Tapi hai Muslimah, pahamilah bahwa tetap saja ada peran lelaki yang tak bisa kita gantikan, bahwa memposisikan kita berbeda itu tidak selalu berarti diskriminasi.
Kalau tentang pendidikan, posisi dan peran, aku sih setuju aja, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Tapi hai Muslimah, pahamilah bahwa tetap saja ada peran lelaki yang tak bisa kita gantikan, bahwa memposisikan kita berbeda itu tidak selalu berarti diskriminasi.
Contoh sederhananya tentang menjadi kepala rumah tangga atau yang memiliki keputusan tertinggi dalam keluarga, tentu saja peran ini mutlak milik lelaki, kita semua sudah belajar "Arrijalu qowwamuna 'ala nisa" bahwa lelaki adalah pemimpin atas kaum perempuan. Tetapi pada kenyataanya, karena kesalahpahaman akan makna emansipasi, kebanyakan teman sesama perempuan -dalam bincang santai- mengatakan bahwa setelah dia menikah nanti, ia akan tetap menjadi perempuan pekerja, wanita karir istilah kerennya, lalu iseng aku bertanya "Kenapa? Kalo suami nanti gak izinin kamu kerja dengan alasan yang masuk akal dan suamimu memang mampu untuk memenuhi kebutuhan kalian gimana dong?" Jawaban yang diluar perkiraan, mereka lebih memilh untuk berpisah dengan lelaki yang membatasi ruang gerak mereka. Bahkan ada yang sampai menjawab "Coba deh bayangin akan jadi apa kalo kita gak kerja, terus kita gak punya penghasilan dan terrnyata suami ceraikan kita?" Nah loh, nah loh, jadi makna berbakti pada suami kalah nih dengan emansipasi? Atau, memang niat kerjanya untuk antisipasi kalo cerai? Kita kan menikah merencanakan sebaik-baik pernikahan, bukan merencanakan perceraian. Ya, kan?
Sejujurnnya aku belum menikah, tetapi insyaAllah akan segera menikah, heee, mohon doanya Den's sekalian. Aku berpikir panjang tentang hal ini, aku dan temen-temen lain yang sekarang sedang duduk dibangku kuliah, kelak saat aku selesai maka kita akan memiliki sebuah gelar, yang dengan gelar itu ada tuntutan sosial bahwa kita harus menjadi lebih dari sekedar Ibu Rumah Tangga biasa layaknya perempuan lain yang tidak sampai kuliah. Aku coba merenungkan baik-baik kisah ini dan berkaca kepada Ummul Mukminin kita Aisyah r.a semoga kita kelak dipertemukan di Syurga Nya, aamiin.
Coba pahami betul kisah Ummi Aisyah, bahwa beliau adalah perempuan yang sangat cerdas, mampu menghafal Al Quran dan ribuan hadits, kemudian beliau adalah wanita yang digambarkan sangat cantik, tetapi beliau tetap menjadi Istri yang sangat berbakti, mendukung setiap kegiatan Rasulullah, mampu memahami Rasul, menjadi Ibu Negara yang rendah hati dan tetap menjaga kehormatan tanpa meninggikan posisinya diatas Rasulullah S.A.W.
Nah, kalau perempuan yang luar biasa cantik dan cerdas saja tetap patuh pada Rasul, masa kita yang hanya butiran debu ini gak berusaha untuk memuliakan diri seperti yang telah Ummi Aisyah contohkan?
Ada yang tahu foto keluarga siapa ini? Mungkin ada yang sudah tahu dan ada yang belum ya?
Baiklah, ini adalah keluarga Ustadz Budi Dharmawan dengan Istri Bunda Yoyoh Yusroh Almh. Keluarga hebat dan dikaruniai 13 anak (9putra dan 4putri) ini adalah keluarga eramodern yang baik untuk diteladani.
Bunda Yoyoh Yusroh, dengan tetap merawat anaknya, beliau tetap mengukir prestasi dan membawa anaknya menjadi anak-anak yang juga tak kalah banyak prestasinya. Atas izin Suami, beliau tetap aktif berpolitik tanpa mengabaikan kewajiban beliau sebagai Istri dan madrasah untuk anak-anaknya. Kiprah terakhir sebelum meninggal beliau adalah Anggota DPR RI komisi VIII sebagai wakil ketua fraksi PKS. Diantara kesibukannya memperjuangkan ummat, Bunda Yoyoh Yusroh tetap menjaga Ibadah amalan harian nya yaitu bertilawah 3juz dalam sehari, memksimalkan diri di Politik dan mencetak putra-putri kreatif penghapal Qur'an berprestasi. MANTAP
Bunda Yoyoh Yusroh, dengan tetap merawat anaknya, beliau tetap mengukir prestasi dan membawa anaknya menjadi anak-anak yang juga tak kalah banyak prestasinya. Atas izin Suami, beliau tetap aktif berpolitik tanpa mengabaikan kewajiban beliau sebagai Istri dan madrasah untuk anak-anaknya. Kiprah terakhir sebelum meninggal beliau adalah Anggota DPR RI komisi VIII sebagai wakil ketua fraksi PKS. Diantara kesibukannya memperjuangkan ummat, Bunda Yoyoh Yusroh tetap menjaga Ibadah amalan harian nya yaitu bertilawah 3juz dalam sehari, memksimalkan diri di Politik dan mencetak putra-putri kreatif penghapal Qur'an berprestasi. MANTAP
Hmmm.. Kita akan seperti apa ya? Silahkan temen-temen cari rolemodel perempuan yang menginspirasi kalian dan jangan lupa carinya yang cantik luar dalem ya, karena kalo cantik wajah aja, 20-30 tahun lagi mah keriput. Coba yuk kita buka lagi buku perencanaan hidup yang udh kita buat, aatu yang belum buat, dibuat yuk buku perencanaanya, apakah kita sudah bercita-cita memenuhi kriteria wanita yang sholehah dan mampu menshalihkan keluarga dan anak-anak kelak? Kalau dirasa masih belum, yuk buat perencanaan ulang dan lebih tersusun mantap.
Semoga kita bagian dari bidadari dunia yang dirindukan Syurga, aamiin :)
Semoga kita bagian dari bidadari dunia yang dirindukan Syurga, aamiin :)




