Ada sepasang suami isteri yang berjualan nasi kuning di pinggir jalan ke arah sekolahku. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang Suami mungkin sudah berusia lebih dari 70 tahun, sedangkan isterinya sekitar 60-an. Di sekitar mereka ada juga beberapa gerobak lain yang menjual makanan pagi. tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka yang paling sepi.
Setiap pagi, dalam perjalanan menuju sekolah, Aku sempatkan untuk sarapan di warung Mbah Saring (begitu mereka dipanggil), Mbah Kung dan Mbah Putri Saring. Tidak ada yang istimewa dengan gerobak mereka. Sederhana. Jualannya pun standar.
Setiap pagi pula, Mbah Saring duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu sama. Mbah kakung duduk dilluar gerobak dan Mbah Putri duduk disampingnya. Kalau ada pembeli, Mbah Kung susah payah berdiri dari kursinya (kadang dipapah Mbah Putri) untuk dengan ramah menyapa oembelinya, sekalipun itu hanya anak SMA (Aku). Jika pembeli ingin makan di tempat, Mbah kakung merapikan tempat duduk, sementara Mbah Putri menyiapkan nasi kuning kemudian mennyoorkan nasi kuning itu kepada Mbah kakung untuk diberikan kepada pembeli. Atau kalau pembeli ingin makan dirumah, Mbah Putri menyiapkan nasi kuning dibungkus kemudian menyerahkan nasi itu ke Mbah kung untuk diserahkan pada pembeli.
Saat sedang sepi pelanggan, Mbah Kung dan Mbah Putri mengobrol, sesekali tersenyum hangat dan pandangan mata yang penuh cinta.Sesekali saat Mbah Putri ngantuk, Mbah Kung mengurut punggung Mbah Putri. Lalu ketika Mbah Kung mulai berkeringat, Mbah Putri mengusap dahi mbah kung dengan sapu tangan cinta yang sangat sederhana.
Kalau mau jujur, nasi kuning ini sangat sederhana, isinya pun tidak selengkap nasi kuning di gerobak yang lain. Namun, Cinta dan kasih mereka lah yang membuat saya selalu ingin melihat mereka setiap hari.
Begitu indah melihat mereka (Aku ngetik ini sambil nangis, Den's!) Tidak pernah ada ucapan kasar dari Mbah Kung untuk Mbah Putri karena tidak pandai memasak. Tidak ada pula perlakuan keras dari Mbah Putri untuk Mbah Kung karena gerakan yang lamban. Hingga hari ini (kabar dari seorang teman) mereka tetap berjualan seperti saat saya dulu masih disana.
Mbah, semoga kebahagiaan selalu menyertai Mbah. Mohon doakan juga, kami dapat merasakan kebahagiaan yang Mbah berdua rasakan. Aku Cinta Kalian, Mbah.
“kebahagiaan adalah kesetiaan.. setia atas indahnya merasa cukup.. setia atas indahnya berbagi.. setia atas indahnya ketulusan berbuat baik..”
-Tere Liye-

Yang di foto itu siapa Di?
ReplyDeleteya itu mbah kung dan mbah putri
DeleteKirain cuma ilustrasi doang. Ternyata emang orangnya...
Deletethat's their house..
Delete