Enam bulan itu waktu yang lama atau bukan?
Ada yamg bilang iya, ada juga yang bilanh gak. Kalau aku, ada diantaranya. Siapa coba yang gak rindu dengan keluarga? Harus menahan rindu yang sesakitsakitnya selama enam bulan untuk bisa bertemu dan melihat mereka, keluarga dan sahabat tercinta
Lebih parahnya lagi, kita kehilangan banyak momen bersama, kita cuma dengar kabar dan lihat fotonya, tanpa ada didalamnya. Sekali lagi. Rindu yang sesakitsakitnya. Kalau diibaratkan, ini ibarat bisa melihat angin, geregetan pengen coba sentuh angin, tapi gabisa.
Kapan pulang
Kapan pulang
Kapan pulang
Dalam beberapa hari terakhir banyak yang mengajukan pertanyaan yang sama, dan aku jawab dengan jawaban yang sama : sama-sama ragu akan pulang kapan.
Aku punya target lulus 2017 (aamiin) dan kalau aku terlalu lama libur, itu bisa menyebabkan terlalu lama nunda kuliah. Gamau dong? Aku mau semester pendek, dan karena itu, ada kemungkinan aku merayakan lebaran diatas gunung, yalah, daripada lebaran di darat, homesick ntar, bisa stress.
Ada lagi, bukan hanya pertanyaan kapan pulang yang terucap, tapi ungkapan rindu, kangen, sering aku dengar dan baca bberapa hari ini. Hmm, ada rasa bersyukur yang memincak dikepala, menyadari trnyata hadirku masih dirindukan.
Dear all my beloved people in this world, aku begini bukan gak kangen, ini caraku mengalihkan pikiran supaya enam bulan itu gak terlalu menyiksaku.
Sesungguhnya, aku juga sangat rindu kalian.
Gimana Ujianmu?
Gimana ujiannya? Sukses kan? Yang sibuk ujian sebegitu sepinya gak ada curhat atau cerita apapun. Males nulis po?
Seminggu ini aku menggila, aku dihantui laporan kemajuan PKM, yang bikin aku menggila adalah : semua arsip kegiatan ada di laptop yang lagi di service. Bahkan sampai sekarang belom upload, gila banger lah pokoknya.
Sahabat, apakah dirimu merasakan ketersiksaan yang sama denganku? Sesungguhnya yang kurasa ini adalah rindu yang menggila. Karena rasa menggila ini aku semakin yakin bahwa yang kits lakukam Sekarang adalah jauh lebih baik.
Yang ingin aku ceritakan terlalu banyak, ngetik pakai hand phone agak sedikit menantang karena aku jadi sering salah ketik, jadi akan kuceritakan beberapa, selebihnya, aku ceritakam someday , insyaAllah.
1. Berat badan aku meningkat tajaaaam :( Aku gak percaya dengan yang aku lihag taxi siang saat aku ukur berat badan. Dirimu ga perlu tau berapa angka before Dan after, yg pasti meningkaaaaat.
2. Beberapa hari ini aku ngerasa tersiksa banget, lagi banyak-banyaknya tekanan, sementara gak ada tempat berbagi cerita, gak ada yang kirim foto absurd, ga ada yang kirim rekaman yang suaranya 'merdu' banget , hehee
Kapan-kapan kirimin lagi dong ya, siapa tau dirimu ngirim saat aku lagi membutuhkannya, hahaa
3. Ini yg lumayan penting : SELAMAT HARI TANPA TEMBAKAU SEDUNIA. Meski keluarga kita banyak perokok, tetaplah jadi pendukung aku untuk perangi tembakau Dan semua akibat buruk yang disebabkannya.
4. Tadi siang aksi HTTS, harusnya ada adik-adik PKM yang ikut, tapi karena kesalahan Aku, jadi semuanya gagal berantakan :(
Pulang-pulang aku masuk angin, nyampe Sekarang
5. Beberapa waktu terakhir ini aku jadi orang paling pesimis sedunia.Ya, rasanya semua yang sebelumnya aku yakini bisa, terhalang jurang yang sebelumnya gak keliatan. Aku gabisa sampai di tujuan :(
6. Sedih, kangen Ayah
7. Dan, ada banyak kisah yang gak bisa kutulis, tentang Ibu, tentang keluargaku semuanya
Jadi, someday nya kita itu kapan yaa?
Seminggu ini aku menggila, aku dihantui laporan kemajuan PKM, yang bikin aku menggila adalah : semua arsip kegiatan ada di laptop yang lagi di service. Bahkan sampai sekarang belom upload, gila banger lah pokoknya.
Sahabat, apakah dirimu merasakan ketersiksaan yang sama denganku? Sesungguhnya yang kurasa ini adalah rindu yang menggila. Karena rasa menggila ini aku semakin yakin bahwa yang kits lakukam Sekarang adalah jauh lebih baik.
Yang ingin aku ceritakan terlalu banyak, ngetik pakai hand phone agak sedikit menantang karena aku jadi sering salah ketik, jadi akan kuceritakan beberapa, selebihnya, aku ceritakam someday , insyaAllah.
1. Berat badan aku meningkat tajaaaam :( Aku gak percaya dengan yang aku lihag taxi siang saat aku ukur berat badan. Dirimu ga perlu tau berapa angka before Dan after, yg pasti meningkaaaaat.
2. Beberapa hari ini aku ngerasa tersiksa banget, lagi banyak-banyaknya tekanan, sementara gak ada tempat berbagi cerita, gak ada yang kirim foto absurd, ga ada yang kirim rekaman yang suaranya 'merdu' banget , hehee
Kapan-kapan kirimin lagi dong ya, siapa tau dirimu ngirim saat aku lagi membutuhkannya, hahaa
3. Ini yg lumayan penting : SELAMAT HARI TANPA TEMBAKAU SEDUNIA. Meski keluarga kita banyak perokok, tetaplah jadi pendukung aku untuk perangi tembakau Dan semua akibat buruk yang disebabkannya.
4. Tadi siang aksi HTTS, harusnya ada adik-adik PKM yang ikut, tapi karena kesalahan Aku, jadi semuanya gagal berantakan :(
Pulang-pulang aku masuk angin, nyampe Sekarang
5. Beberapa waktu terakhir ini aku jadi orang paling pesimis sedunia.Ya, rasanya semua yang sebelumnya aku yakini bisa, terhalang jurang yang sebelumnya gak keliatan. Aku gabisa sampai di tujuan :(
6. Sedih, kangen Ayah
7. Dan, ada banyak kisah yang gak bisa kutulis, tentang Ibu, tentang keluargaku semuanya
Jadi, someday nya kita itu kapan yaa?
Untuk Sahabatku
May 26, 2015
Hei dirimu sahabatku, apa kabarnya hari ini?
Aku berharap dirimu selalu dalam lindungan dan jalan-Nya, amin
Sahabat, maafkan Aku jika aku sudah mulai aneh, maafkan jika dirimu merasa aku mulai berjarak. Sesungguhnya aku tak pernah mencoba mencipta jarak, tapi memang ada batas diantara kita, batas yang kupikir, semakin kita tumbuh dewasa, batas itu semakin jelas, bukan batas pemisah, tapi batas penjaga.
Sahabat, maafkan jika mungkin aku akan jarang telpon berjam-jam, maafkan tak ada lagi cacian atau cerewetnya aku di hari-hari mu sahabat. Semua yang aku ingin sampaikan padamu, akan kusampaikan melalui tulisan-tulisanku, yang jika ada yang ingin kusampaikan, maka aku akan menulis pesan persahabatan disini, untukmu, sahabatku. Untuk itu, sesekali jika dirimu ingin mengunjungiku, kunjungilah tulisanku, maka aku ada.
Teruntuk sahabat yang jauh disana, yang sama denganku, jauh dari semua kehidupan yang nyaman, yang sama denganku, jauh dari sahabatnya. Untukmu yang sedang berjuang, aku (lagi-lagi) ingin mengingatkanmu tentang impian, apa kah dirimu sudah bosan dengan hal ini? biarlah, aku tetap akan membahasnya. :p
Kamu harus tau bahwa ratusan mimpi yang aku tulis itu karena aku tak ingin kalah darimu. Saat itu, aku melihat dirimu adalah orang yang penuh perncanaan, pertimbangan dan aku melihat dirimu memiliki visi, cita-cita, impian. dari itulah aku mulai coba mencari tujuanku, mulai coba menulis apa yang akan aku capai.
Sahabat, ketahuilah, aku, jika ada kesempatan itu untukku, akan kubawakan bunga terindah untukmu dihari kelulusanmu, insyaAllah. Maka itu, berjuanglah! Berjuanglah didatangi bidadari dihari wisudaanmu, hehe :p Kalau fans aku susah tu minta aku datang wisudaanya. Nah dirimu, asal lulus, didatangi bidadari!
Tak banyak celotehku hari ini, ohiya, aku berpesan, jika dirimu ingin bercerita,berceritalah pada kertas atau ms.word, siapa tau someday tulisan itu dibuku kan, aku jadi orang pertama yang beli bukumu! :) Tenang, Aku tetap akan mendengarkan ceritamu sahabat, tulislah, maka aku akan menanggapinya, melalui tulisanku juga.
-Semua perjuangan, rasa sakit yang mendera, rindu yang menyiksa dan jarak yang membuat jauh dari semua, jangan jadikan beban! Jadikan ini semua sebagai tebusan! Ya! Tebusan! Pastikan di hari esok, dirimu, dengan penuh haru, dalam keadaan terbaik, mengatakan "dulu saat kuliah, saya... " -
Jadikanlah kehadiranmu sebagai cahaya untuk orang-orang disekelilingmu, jadikanlah dirimu pribadi penuh kebermanfaatan, yang kehadirannya disenangi, ketidakhadirannya dirindukan
-DeniaDKS-
Menangis terlalu cepat
Saksikanlah, inilah Aku, anak ragil yang memang begini adanya, seperti kata orang kebanyakan, anak ragil itu cengeng, manja, rewel, dan sebagainya. Akutidak bisa menerima begitu saja, tetapi aku juga tidak bisa memungkirinya. Inilah aku, yang selalu coba mematahkan anggapan apapun tentang anak ragil, anggapan bahwa anak ragil itu manja, anggapan bahwa anak ragil itu tidak bisa apa-apa, anggapan bahwa anak rigil itu bisanya cuma nangis dan rewel meminta. Aku mencoba mematahkan itu.
Tapi apa daya, itu tak lain ibarat anak ayam mencoba terbang, yah, anak ayam, dia memang punya sayap, tapi dia tetaplah anak ayam. Seperti itulah aku, setegar apapun aku berjuang, aku kembali pada karakter yang sudah melekat pada diriku : manja dan menangis.
Ibu, ini anakmu, yang tetap manja tapi tak ada yang memanjakan. Ibu, ini anakmu, yang tetap cengeng tapi tak ada tempat peraduan. Ibu, ini anakmu, yang mengetik namamu saja rinduku tak tertahankan.
Hari ini, aku mencari banyak hal, banyak sekali, yang intinya semua hal yang kucari ini adalah : mencari kesempatan untuk bisa menangis dihadapan umum. Dan mencari jalan untuk bisa membuatmu menangis didepan umum. Maafkan niat jahatku ini Bu, aku sungguh-sungguh encari jalan untuk bisa membuat mu menangis.
Berbagai cara kucoba, dan sepertinya jalan yang kulalui ini kurang banyak, masih jauh dari pencapaian, masih belum tercapai harapanku untuk memnangis dan membuatmu menangis didepan umum. Ibu, ketahuilah, sesungguhnya aku bosan melihatmu menangis diam-diam. Aku pun bosan menangis diam-diam. Aku ingin dunia melihat tangisan kita. maka aku berjuang untuk itu.
Siang ini, perjuangan PKM ku sudah hampir diujung jalan, tapi saat aku mengevaluasi diri, rasanya pencapaian kami hanya mencapai 40%, Ibu, aku ingin diundang PIMNAS, sepertinya ini peluang untuk menangis didepan umum, mungkinkah kami pantas diundang PIMNAS jika pencapaian kami hanya sekecil ini? Sayangnya, belum sempat aku menangis didepan umum, aku sudah menangis dahulu didepan layar ini, Aku melihat video-video mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk PIMNAS juga, mereka melakukan usaha yang jauh luarbiasa lebih penuh perjuangan. Maka aku kembali bertanya pada diriku, pantaskah aku? Ibu, Aku melihat video saat pelaksanaan PIMNAS di UNDIP tahun lalu, aku menangis prematur, aku menangis karena pertanyaan "Mungkinkah aku termasuk diantara orang-orang ini di PIMNAS nanti?"
Ibu, terlepas dari semua, izinkan aku membuatmu menangis, meski hanya dengan melihat videoku nanti, aku ingin menyebut namamu jika aku mendapatkan kesempatan berbicara didepan. Aku bukan hanya menargetkan PIMNAS, Aku menargetkan mendapat emas, sehingga atas emas yang aku dapat, aku berharap diizinkan berbicara didepan sekedar untuk berterimakasih padamu, Ibu.
Doakan anakmu
Sendiri
May 07, 2015
"Mba Tina itu kalau ada Mas Yandra rajin sekali masak dek, pagi-pagi, dapur udah harum sambel bawang, jam 10 udah klotek-klotek lagi didapur, terus nanti jam empat udah mulai buka kulkas mau masak lagi, kalo masak sendiri itu ibu lebih seneng rasa masakannya" Ibu bercerita.
Seperti biasa, aku selalu mendengarkan dengan khidmat setiap cerita yang Ibu ceritakan, meski itu cerita yang sudah ibu ceritakan sekitar tujuh kali dalam dua minggu terakhir. Akulah Dee, Dhia Syarafana, orangtua ku menamaiku demikian berharap aku menjadi "cahaya kemuliaan" untuk keluarga kami, di hari kemudian. Aku anak ke 5 dari 5 bersaudara, Ibu sedang sakit dan Ayah sudah pergi, untuk membangun rumah kami di sana, supaya saat kami datang, rumah kami sudah siap huni, itu yang selalu Ibu katakan padaku.
Akulah anak terakhir, yang menjadi tanggungan untuk 4 kakak ku beserta pasangan hidupnya, (menurutku) begitu kira-kira hadirku bagi mereka. Darimana aku harus mulai bercerita tentang perjalanan panjang nan singkat ini?
Baiklah, aku akan memulai dengan kelanjutan dari percakapan hangat sore ini.
"Memangnya setiap akhir pekan Mas Yandra selalu pualang Bu? Jakarta-Lampung kan jauh Bu, apa gak capek mas yandra itu bolak-balik tiap minggu?"
"Iya masnya pulang tiap minggu, ya wajar tho ndok kalo masnya pulang, namanya juga punya anak kecil, pasti selalu kangen, apalagi dede Aini kan baru bisa ngomong, meskipun kata-katanya belum jelas, dengerin suara anak itu jadi obat untuk semua lelah dan penat, suatu hari kamu akan rasakan"
Mengharukan, penuh makna. Itu jawaban paling tulus seorang Ibu, hal itu mengingatkan aku pada pemandangan yang aku lihat saat pulang kampung beberapa bulan lalu, saat Ibu duduk di depan pintu dapur, memandangi anak pertama dan ketiga sedang sibuk memasak didapur sambil dengan penuh semangat bercerita banyak hal, tentang kejadian yang beliau lihat saat di pasar, tentang tetangga kami yang baru saja membeli kambing dengan harga cukup murah, atau sekedar bercerita tentang harga cabai yang menggila. Tapi apa yang aku lihat dari kakak-kakak ku? Mereka begitu sibuk dengan masakan mereka, mereka hanya terfokus pada masakan yang harus segera matang di pagi hari, dengan rasa yang enak dan bisa terhidang di warung sarapan kami se-pagi mungkin.
Kakak-kakak ku sama sekali tidak pedulikan cerita yang ibu ceritakan dengan begitu semangatnya, mungkin karena itu cerita yang hampir sama yang harus mereka dengar selama bertahun lamanya. Dan pemandangan yang sama (juga) adalah, Ibu tetap menceritakan semuanya dengan tetap tersenyum dan sesekali ia menyelipka tawa nan renyah dan hangat,tetap diabaikan.
*
"ndok, ndok kok diem? suara Ibu kedengeran gak?" panggilan Ibu sadarkan ku tentang memori menyedihkan itu.
"eh.. e.. ehh.. kedengeran kok Bu, iya, eh, emang Mba Tina dimana sekarang Bu? ada dirumah?"
"gak, kerja"
"dedek aini nya kemana? kok gak kedengeran ada suaranya Bu?"
"Gak ada orang dirumah, Ibu sendirian, makanya Ibu telpon kamu"
Deg. Sejenak waktu berhenti berdetik. Begitu sengsaranya hatiku membayangkan Ibuku yang sudah tua dan sedang sakit itu sendirian dirumah? Ya Allah, pulangkan aku sekarang, atau antarkan Ibu padaku sekarang juga, biar kurawat beliau, biar kutemani, aku ajak kekampus saat aku kuliah, aku ajak pada setiap kegiatan organisasiku, takkan kubiarkan beliau sendirian, dan supaya beliau tak jenuh hanya memandangi dinding dan plafon rumah.
"Kak, udah selesai telponnya? Jadi kan kita beli buku?" tiba-tiba adik kos ku menyentuh punggungku dan aku langsung berkata tanpa suara yang mengisyarakan nanti dulu ya"Ibu udah makan?" pertanyaanku mencoba mengalihkan topik, aku sedang tidak ingin bersedih hari ini. Aku sedang berusaha untuk tidak lagi bersedih.
"Udah, tadi pas makan siang Mba Tina pulang bawain tongseng ayam, sama bawa buah, kamu udah makan ndok?"
"Aku, aku udah makan Bu, tadi aku goreng telur kecap, enak banget bu. Tapi pasti lebih enak tongseng ayamnya kan Bu? "
"Sejak kapan kamu boleh makan telur lagi ndok? itu alergi kamu nanti bisa kumat lagi, awas lho kalo lebaran besok ibu liat kamu alerginya kumat, gak tak kasih amplop lebaran nanti! Mana mungkin Ibu bisa makan enak kalo anak ibu aja disana makan makanan yang gak boleh dimakan" Suara Ibu melemah, seperti ada isak tertahan di setiap akhir katanya.
Demi mendengar isak tertahan itu, aku mencoba mengalihkan topik. "Oh iya Bu, lagi ada bazar buku, aku boleh beli buku ya, tenang, aku udah beli baju baru kok, jadi aku tetep anak Ibu yang selalu tampil cantik dan gak malu-maluin, hehe"
"Yaudah kalo mau beli, asal kertas yang untuk belinya ada, maafin Ibu gak bisa lagi kasih kamu uang, Ibu punya uang malahan untuk beli kursi roda, padahal Ibu jarang pakai, dan padahal kamu disana jauh lebih butuh, maafin Ibu ya ndok"
Ah. Gagal nih usahaku, gak sepenuhnya gagal sih, topik teralihkan, tapi suasana hati ternyata gak bisa berubah cepat menjadi ceria lagi. Adik kos ku masih dengan setia menunggu, sudah hampir setengah jam kami bercerita di telpon. Sebenarnnya aku kasihan membuat adikku menunggu, tetapi pantang untuk aku mengakhiri telpon dari Ibu.
Sampai satu jam kemudian Ibu mengakhiri telpon karena sudah saatnya mandi. Aku dan adikku segera meluncur ke lokasi bazar buku, dengan pikiran mengawang, membayangkan bagaimana Ibuku yang sudah tua dan tangan yang lemah itu melakukan semuanya sendiri, sendiri, sendiri.
----------------------------------------to be continue
Seperti biasa, aku selalu mendengarkan dengan khidmat setiap cerita yang Ibu ceritakan, meski itu cerita yang sudah ibu ceritakan sekitar tujuh kali dalam dua minggu terakhir. Akulah Dee, Dhia Syarafana, orangtua ku menamaiku demikian berharap aku menjadi "cahaya kemuliaan" untuk keluarga kami, di hari kemudian. Aku anak ke 5 dari 5 bersaudara, Ibu sedang sakit dan Ayah sudah pergi, untuk membangun rumah kami di sana, supaya saat kami datang, rumah kami sudah siap huni, itu yang selalu Ibu katakan padaku.
Akulah anak terakhir, yang menjadi tanggungan untuk 4 kakak ku beserta pasangan hidupnya, (menurutku) begitu kira-kira hadirku bagi mereka. Darimana aku harus mulai bercerita tentang perjalanan panjang nan singkat ini?
Baiklah, aku akan memulai dengan kelanjutan dari percakapan hangat sore ini.
"Memangnya setiap akhir pekan Mas Yandra selalu pualang Bu? Jakarta-Lampung kan jauh Bu, apa gak capek mas yandra itu bolak-balik tiap minggu?"
"Iya masnya pulang tiap minggu, ya wajar tho ndok kalo masnya pulang, namanya juga punya anak kecil, pasti selalu kangen, apalagi dede Aini kan baru bisa ngomong, meskipun kata-katanya belum jelas, dengerin suara anak itu jadi obat untuk semua lelah dan penat, suatu hari kamu akan rasakan"
Mengharukan, penuh makna. Itu jawaban paling tulus seorang Ibu, hal itu mengingatkan aku pada pemandangan yang aku lihat saat pulang kampung beberapa bulan lalu, saat Ibu duduk di depan pintu dapur, memandangi anak pertama dan ketiga sedang sibuk memasak didapur sambil dengan penuh semangat bercerita banyak hal, tentang kejadian yang beliau lihat saat di pasar, tentang tetangga kami yang baru saja membeli kambing dengan harga cukup murah, atau sekedar bercerita tentang harga cabai yang menggila. Tapi apa yang aku lihat dari kakak-kakak ku? Mereka begitu sibuk dengan masakan mereka, mereka hanya terfokus pada masakan yang harus segera matang di pagi hari, dengan rasa yang enak dan bisa terhidang di warung sarapan kami se-pagi mungkin.
Kakak-kakak ku sama sekali tidak pedulikan cerita yang ibu ceritakan dengan begitu semangatnya, mungkin karena itu cerita yang hampir sama yang harus mereka dengar selama bertahun lamanya. Dan pemandangan yang sama (juga) adalah, Ibu tetap menceritakan semuanya dengan tetap tersenyum dan sesekali ia menyelipka tawa nan renyah dan hangat,tetap diabaikan.
*
"ndok, ndok kok diem? suara Ibu kedengeran gak?" panggilan Ibu sadarkan ku tentang memori menyedihkan itu.
"eh.. e.. ehh.. kedengeran kok Bu, iya, eh, emang Mba Tina dimana sekarang Bu? ada dirumah?"
"gak, kerja"
"dedek aini nya kemana? kok gak kedengeran ada suaranya Bu?"
"Gak ada orang dirumah, Ibu sendirian, makanya Ibu telpon kamu"
Deg. Sejenak waktu berhenti berdetik. Begitu sengsaranya hatiku membayangkan Ibuku yang sudah tua dan sedang sakit itu sendirian dirumah? Ya Allah, pulangkan aku sekarang, atau antarkan Ibu padaku sekarang juga, biar kurawat beliau, biar kutemani, aku ajak kekampus saat aku kuliah, aku ajak pada setiap kegiatan organisasiku, takkan kubiarkan beliau sendirian, dan supaya beliau tak jenuh hanya memandangi dinding dan plafon rumah.
"Kak, udah selesai telponnya? Jadi kan kita beli buku?" tiba-tiba adik kos ku menyentuh punggungku dan aku langsung berkata tanpa suara yang mengisyarakan nanti dulu ya"Ibu udah makan?" pertanyaanku mencoba mengalihkan topik, aku sedang tidak ingin bersedih hari ini. Aku sedang berusaha untuk tidak lagi bersedih.
"Udah, tadi pas makan siang Mba Tina pulang bawain tongseng ayam, sama bawa buah, kamu udah makan ndok?"
"Aku, aku udah makan Bu, tadi aku goreng telur kecap, enak banget bu. Tapi pasti lebih enak tongseng ayamnya kan Bu? "
"Sejak kapan kamu boleh makan telur lagi ndok? itu alergi kamu nanti bisa kumat lagi, awas lho kalo lebaran besok ibu liat kamu alerginya kumat, gak tak kasih amplop lebaran nanti! Mana mungkin Ibu bisa makan enak kalo anak ibu aja disana makan makanan yang gak boleh dimakan" Suara Ibu melemah, seperti ada isak tertahan di setiap akhir katanya.
Demi mendengar isak tertahan itu, aku mencoba mengalihkan topik. "Oh iya Bu, lagi ada bazar buku, aku boleh beli buku ya, tenang, aku udah beli baju baru kok, jadi aku tetep anak Ibu yang selalu tampil cantik dan gak malu-maluin, hehe"
"Yaudah kalo mau beli, asal kertas yang untuk belinya ada, maafin Ibu gak bisa lagi kasih kamu uang, Ibu punya uang malahan untuk beli kursi roda, padahal Ibu jarang pakai, dan padahal kamu disana jauh lebih butuh, maafin Ibu ya ndok"
Ah. Gagal nih usahaku, gak sepenuhnya gagal sih, topik teralihkan, tapi suasana hati ternyata gak bisa berubah cepat menjadi ceria lagi. Adik kos ku masih dengan setia menunggu, sudah hampir setengah jam kami bercerita di telpon. Sebenarnnya aku kasihan membuat adikku menunggu, tetapi pantang untuk aku mengakhiri telpon dari Ibu.
Sampai satu jam kemudian Ibu mengakhiri telpon karena sudah saatnya mandi. Aku dan adikku segera meluncur ke lokasi bazar buku, dengan pikiran mengawang, membayangkan bagaimana Ibuku yang sudah tua dan tangan yang lemah itu melakukan semuanya sendiri, sendiri, sendiri.
----------------------------------------to be continue
Mengapa tak Menulis?
Kenapa?
Jawabannya adalah karena "nanti"
ya, nanti yang sering kuucapkan menyebabkan aku akhirnya tak pernah menulis apapun. Padahal yang ada dikepala rasanya ingin semua kutumpahkan, meski ada beberapa hal yang aku mau tak ada orang lain yang tau. Tahukah kamu Den's, selalu ada pelajaran dalam setiap kegiatan yang aku lakuin, dimanapun, kapanpun. Dalam semua kegiatan yang aku lakukan, aku begitu yakin Allah terlibat dan menyaksikan kesemuanya itu. Dan yang selalu ada dikepala ku juga, aku ingin kalian mendapatkan pelajaran yang sama, aku ingin kalian tahu dan bisa mengambil hikmah.
Lalu kenapa tak kutuliskan semua itu? Jawabannya adalah "karena nanti". Jadi gini, aku, selalu berharap suatu hari nanti aku akan memiliki beberapa buku hasil karanganku. Impian yang begitu umum, tanpa targetan waktu, tanpa keterangan buku apa yang aku akan tulis, sampai aku sendiri sulit mendeteksi kapan impian ini bakal terwujud kalo isinya umum banget begini. Yah, aku mohon maklumatnya, masih awam banget, masih belum bisa membagi waktu ku untuk ini dan untuk itu.
Aku sedikit menyarankan (untuk diriku sendiri juga) pada siapapun yang ingin menulis buku: MENULISLAH. Apapun itu, tulislah! Tulis semua yang ingin kalian tulis, aku pernah mempraktikkan ini, berhasil, bahwa disetiap sela kegiatan, aku menuliskan semua hal yang bisa aku tulis, kemudian malam hari nya kuketik ulang, jadilah postingan penuh semangat. Tapi karena beberapa alasan, aku tak melanjutkan itu, sekali lagi, aku hanya manusia yang sedikit sekali benarnya.
Baiklah, jangan ambil kesimpulan apapun dari tulisan ini, karena sepertinya aku memang tak menuliskannya, aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. Aku sedang berusaha merajinkan diriku pada menulis, meski hanya satu paragraf, atau hanya satu kalimat, aku akan tetap menuliskannya.
Subscribe to:
Comments (Atom)