JANJI KU

January 30, 2015

malam ini,
izinkan aku tanpa lelah memandangi wajahmu
tak ingin aku terlelap
walau sekejap

selamat malam , ibuku
selamat malam wajahmu yang lelah
wajah teduh yang sedang terlelap pulas beristirahat dari kepenatan dunia
wajah yang kini penuh kerut karena memikirkan banyak hal untuk anak-anak mu
wajah yang selalu kuingat dalam renungan rindu padamu

selamat malam, ibuku
apakah istirahat ini cukup untukmu?
apakah istirahat ini mampu hilangkan lelah jerihmu?
apakah kau benar-benar  terlelap?
atau hanya pejamkan mata sembari memikirkan kami, anak-anakmu ?

ibu..
jauh ku cari ilmu
jauh darimu
semakin sedikit waktu yang kumiliki untuk menjaga dan merawatmu
maafkan aku, maafkan anak-anakmu


ibu..
sakit sekali yang aku rasa
saat akan mengakhiri liburanku
mulai mengemasi barang, membawa tas besar, dan melihatmu menangis (lagi)

ibu..
kali ini kumohon
lekaslah sembuh, kita akan kesana
ke masjid nabawi, foto di ka’bah, dan tentu, aku akan menjagamu
kita berfoto dengan tongkat foto ku..
kita .. aku berjanji , ibu


Kebahagiaan seperti apalagi yang harus kuminta? Aku telah memiliki semua yang bahkan belum pernah aku membayangkannya.
_DKS_



Terimakasih, Capuccino

January 23, 2015

Ilustrasi Aku dan Ayah
Terimakasih (lagi) untukmu, capuccino..
Minuman yang sejak pulang kampung aku jadi sangat menyukaimu
Kembali malam ini kamu temani indah malamku
Bersama sahut-sahutan suara kodok di kolam belakang rumah
Dingin tak hinggap dikulitku,
Tapi dihati


Tung tung tung tung
Begitu kira-kira suara kodok jika dituliskan
Nyanyian alam nan indah
Membawaku kembali pada satu waktu yang hangat dimasalalu


Pada suatu senja disebuah rumah nan sederhana, beriring gerimis dan matilampu
"Ayah, itu suara apa?" Tanya aku kecil pada Ayah yang sedang meminum kopi susu, minuman kesukaan beliau kala itu..
"Oh, itu suara kodok, emang sebelumnya belum pernah dengar ya?" Jawab ayah pada aku kecil, lanjutkan minumnya, kemudian letakkan gelas itu ke meja
"Belum Yah, suara kodok kok serem gitu ya?"
"Sayang.. Ayo ikut Ayah" jawab ayah sambil genggam lembut tanganku (ah, genggaman ini masih kuingat hangatnya)

Disanalah kami..
Ditepi kolam ikan, dibawah langit jingga, sedikit gerimis dan pisang goreng ditanganku, kami duduk, aku dan ayah..
"Sayang.. Pernah cobain rasa angin?"
Aku menggeleng
"Pernah nyicip rasa ujan
Aku menggeleng
Sebenarnya aku menggeleng karena merasa ayah sedang membawaku ke suasana yang kikuk, kaku menurutku, dan Ayah mengerti itu

"Coba merem.." Kata ayah (merem = mejem = pejam mata)
"Nafas yang panjaaang.. Dengar suara kodoknya.. Dengar suara tetesan airnya.. Dengar hembusan lembut angin .. Dan tersenyumlah.. Ayo senyum, gadis cantik ayah harus terus tersenyum, suara kodok yang serem, atau matilampu yang menakutkan, semua itu jadi terasa buruk karena kamu ga menikmatinya.. Cobalah untuk selalu tenang, istighfar, bersyukur, maka apapun yang sedang terjadi, itu menjadi indah.. Ingat, Laa Tahzan innallaha ma'anaa"



Kenangan itu, membuatku tersenyum sedih.. Pak Wahidin adalah lelaki terhebat, tauladan nomor dua setelah Rasulullaah S.A.W..

Tangisan mengenang Ayah, menghangatkan hati, dan mendinginkan kopi

Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'aafihi, wa'fuanhu..
Ayah .. semoga kita bertemu di syurga-Nya

Aamiin




Kini

January 14, 2015

Seperti apa aku harus berdoa
Ketika marah telah sampai di puncak kepala
Bingung melanda
Gusar
Sedih
Terluka

Pada apa aku harus mengusap tetesan mutiara
Pada apa aku akan meminta perhatian
Pada apa aku bisa bercerita dan berkeluh kesah
Pada siapakah lagi aku bisa merajuk manja

Angin tak datang
Cahaya telah hilang

Lalu siapa lagi?
Apalagi yang akan temani?
Hanya caci!
Maki!
Sepi!

Mereka yang sejatinya menjadi musuh
Kini adalah sahabat setia

Untuk Sebuah Hati

January 12, 2015

Lampung, 9 Januari 2015
00:30

Beliau tak meminta, tapi sudah kubaca semua cerita yang beliau tulis. Pemikiran luar biasa, sama seperti prasangkaku tentangnya.

Tahukah?
Aku selalu berdoa beliau akan dengar seluruh ceritaku kelak tentang doa, pengharapan dan perjuangan, mungkin hal kecil baginya, tapi ini terbaik yang ku mampu.

Cerita penuh haru, ditempat yang kami tak pernah tahu

Ya Allah, aku percaya
Aku pasrahkan seluruh hati
Tanpa tapi, tanpa kecuali

Semoga

Bangkit dan Berjuanglah !

Nasihat untuk siapapun yang mau teriakkan bangkit pada dirinya..

Bicara tentang manusia super.. Maka kita kan bicara tentang seseorang yang mampu menaklukan dirinya sendiri..

Menaklukkan rasa malas.. Menaklukan jiwa yang terlalu mudah menyerah terhadap rasa lelah.. Menaklukkan sikap pasrah.. Padahal ia belum menggapai apa yang semestinya ia capai..

Kulihat dan aku pun berfikir tentang mereka..
Professor ada bukanlah lantaran hanya karena mereka cerdas... Para penemu pun  lahir bukanlah karena mereka jenius...
Sejatinya mereka ada lantaran karena kesungguhan...

Ia bukanlah tentang bakat ataupun talenta..
Ia bukanlah tentang suatu hal yang sudah ada begitu saja..
Bukan sesuatu yang langsung ada sejak dilahirkan..
Melainkan ia tentang kebiasaan yang kau ciptakan..

Ia dibentuk dari pemikiran...
Pemikiran yang pengaruhi apa yang kau ucapkan..
Ucapan pengaruhi apa yang akan kau lakukan..
Apa yang kau lakukan lama-lama menjadi kebiasaan..

Habit itu dibentuk...
Memang tidaklah mudah, namun sungguh bisa jadi seperti apapun yang kau mau..
Dengan kesungguhan yang ada di dadamu..

Percayalah padaku...
Kau bisa jauh lebih hebat dari mereka..
Menjadi sesuatu yang tak pernah mereka duga.. Sesuatu hal yang benar-benar luar biasa..
Kenapa?
Karena Allah telah sebutkan dalam firman-Nya

"Sesunguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah kebiasaan mereka sendiri" (Q.S Ar Ra'd : 11)

Ku percaya padamu..
Kamu pasti bisa..
Apalagi saat kau benar-benar menginginkannya...

SemangatPerubahan!
SelaluMenjadiLebihBaik!
Allahuakbar



Ditulis oleh
Taufik Ramadhani
Singkarak, 28 Desember 2014 (22:05)
 

Den's Visitor

Most Reading