Untuk Sahabatku

May 26, 2015

Hei dirimu sahabatku, apa kabarnya hari ini?
Aku berharap dirimu selalu dalam lindungan dan jalan-Nya, amin
Sahabat, maafkan Aku jika aku sudah mulai aneh, maafkan jika dirimu merasa aku mulai berjarak. Sesungguhnya aku tak pernah mencoba mencipta jarak, tapi memang ada batas diantara kita, batas yang kupikir, semakin kita tumbuh dewasa, batas itu semakin jelas, bukan batas pemisah, tapi batas penjaga.

Sahabat, maafkan jika mungkin aku akan jarang telpon berjam-jam, maafkan tak ada lagi cacian atau cerewetnya aku di hari-hari mu sahabat. Semua yang aku ingin sampaikan padamu, akan kusampaikan melalui tulisan-tulisanku, yang jika ada yang ingin kusampaikan, maka aku akan menulis pesan persahabatan disini, untukmu, sahabatku. Untuk itu, sesekali jika dirimu ingin mengunjungiku, kunjungilah tulisanku, maka aku ada.

Teruntuk sahabat yang jauh disana, yang sama denganku, jauh dari semua kehidupan yang nyaman, yang sama denganku, jauh dari sahabatnya. Untukmu yang sedang berjuang, aku (lagi-lagi) ingin mengingatkanmu tentang impian, apa kah dirimu sudah bosan dengan hal ini? biarlah, aku tetap akan membahasnya. :p
Kamu harus tau bahwa ratusan mimpi yang aku tulis itu karena aku tak ingin kalah darimu. Saat itu, aku melihat dirimu adalah orang yang penuh perncanaan, pertimbangan dan aku melihat dirimu memiliki visi, cita-cita, impian. dari itulah aku mulai coba mencari tujuanku, mulai coba menulis apa yang akan aku capai.

Sahabat, ketahuilah, aku, jika ada kesempatan itu untukku, akan kubawakan bunga terindah untukmu dihari kelulusanmu, insyaAllah. Maka itu, berjuanglah! Berjuanglah didatangi bidadari dihari wisudaanmu, hehe :p Kalau fans aku susah tu minta aku datang wisudaanya. Nah dirimu, asal lulus, didatangi bidadari!

Tak banyak celotehku hari ini, ohiya, aku berpesan, jika dirimu ingin bercerita,berceritalah pada kertas atau ms.word, siapa tau someday tulisan itu dibuku kan, aku jadi orang pertama yang beli bukumu! :) Tenang, Aku tetap akan mendengarkan ceritamu sahabat, tulislah, maka aku akan menanggapinya, melalui tulisanku juga.

-Semua perjuangan, rasa sakit yang mendera, rindu yang menyiksa dan jarak yang membuat jauh dari semua, jangan jadikan beban! Jadikan ini semua sebagai tebusan! Ya! Tebusan! Pastikan di hari esok, dirimu, dengan penuh haru, dalam keadaan terbaik, mengatakan "dulu saat kuliah, saya... " -



Jadikanlah kehadiranmu sebagai cahaya untuk orang-orang disekelilingmu, jadikanlah dirimu pribadi penuh kebermanfaatan, yang kehadirannya disenangi, ketidakhadirannya dirindukan
 -DeniaDKS-

Menangis terlalu cepat

Saksikanlah, inilah Aku, anak ragil yang memang begini adanya, seperti kata orang kebanyakan, anak ragil itu cengeng, manja, rewel, dan sebagainya. Akutidak bisa menerima begitu saja, tetapi aku juga tidak bisa memungkirinya. Inilah aku, yang selalu coba mematahkan anggapan apapun tentang anak ragil, anggapan bahwa anak ragil itu manja, anggapan bahwa anak ragil itu tidak bisa apa-apa, anggapan bahwa anak rigil itu bisanya cuma nangis dan rewel meminta. Aku mencoba mematahkan itu.

Tapi apa daya, itu tak lain ibarat anak ayam mencoba terbang, yah, anak ayam, dia memang punya sayap, tapi dia tetaplah anak ayam. Seperti itulah aku, setegar apapun aku berjuang, aku kembali pada karakter yang sudah melekat pada diriku : manja dan menangis.

Ibu, ini anakmu, yang tetap manja tapi tak ada yang memanjakan. Ibu, ini anakmu, yang tetap cengeng tapi tak ada tempat peraduan. Ibu, ini anakmu, yang mengetik namamu saja rinduku tak tertahankan.

Hari ini, aku mencari banyak hal, banyak sekali, yang intinya semua hal yang kucari ini adalah : mencari kesempatan untuk bisa menangis dihadapan umum. Dan mencari jalan untuk bisa membuatmu menangis didepan umum. Maafkan niat jahatku ini Bu, aku sungguh-sungguh encari jalan untuk bisa membuat mu menangis.

Berbagai cara kucoba, dan sepertinya jalan yang kulalui ini kurang banyak, masih jauh dari pencapaian, masih belum tercapai harapanku untuk memnangis dan membuatmu menangis didepan umum. Ibu, ketahuilah, sesungguhnya aku bosan melihatmu menangis diam-diam. Aku pun bosan menangis diam-diam. Aku ingin dunia melihat tangisan kita. maka aku berjuang untuk itu.

Siang ini, perjuangan PKM ku sudah hampir diujung jalan, tapi saat aku mengevaluasi diri, rasanya pencapaian kami hanya mencapai 40%, Ibu, aku ingin diundang PIMNAS, sepertinya ini peluang untuk menangis didepan umum, mungkinkah kami pantas diundang PIMNAS jika pencapaian kami hanya sekecil ini? Sayangnya, belum sempat aku menangis didepan umum, aku sudah menangis dahulu didepan layar ini, Aku melihat video-video mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk PIMNAS juga, mereka melakukan usaha yang jauh luarbiasa lebih penuh perjuangan. Maka aku kembali bertanya pada diriku, pantaskah aku? Ibu, Aku melihat video saat pelaksanaan PIMNAS di UNDIP tahun lalu, aku menangis prematur, aku menangis karena pertanyaan "Mungkinkah aku termasuk diantara orang-orang ini di PIMNAS nanti?"

Ibu, terlepas dari semua, izinkan aku membuatmu menangis, meski hanya dengan melihat videoku nanti, aku ingin menyebut namamu jika aku mendapatkan kesempatan berbicara didepan. Aku bukan hanya menargetkan PIMNAS, Aku menargetkan mendapat emas, sehingga atas emas yang aku dapat, aku berharap diizinkan berbicara didepan sekedar untuk berterimakasih padamu, Ibu.

Doakan anakmu

Sendiri

May 07, 2015

"Mba Tina itu kalau ada Mas Yandra rajin sekali masak dek, pagi-pagi, dapur udah harum sambel bawang, jam 10 udah klotek-klotek lagi didapur, terus nanti jam empat udah mulai buka kulkas mau masak lagi, kalo masak sendiri itu ibu lebih seneng rasa masakannya" Ibu bercerita.
Seperti biasa, aku selalu mendengarkan dengan khidmat setiap cerita yang Ibu ceritakan, meski itu cerita yang sudah ibu ceritakan sekitar tujuh kali dalam dua minggu terakhir. Akulah Dee, Dhia Syarafana, orangtua ku menamaiku demikian berharap aku menjadi "cahaya kemuliaan" untuk keluarga kami, di hari kemudian. Aku anak ke 5 dari 5 bersaudara, Ibu sedang sakit dan Ayah sudah pergi, untuk membangun rumah kami di sana, supaya saat kami datang, rumah kami sudah siap huni, itu yang selalu Ibu katakan padaku.
Akulah anak terakhir, yang menjadi tanggungan untuk 4 kakak ku beserta pasangan hidupnya, (menurutku) begitu kira-kira hadirku bagi mereka. Darimana aku harus mulai bercerita tentang perjalanan panjang nan singkat ini?
Baiklah, aku akan memulai dengan kelanjutan dari percakapan hangat sore ini.
"Memangnya setiap akhir pekan Mas Yandra selalu pualang Bu? Jakarta-Lampung kan jauh Bu, apa gak capek mas yandra itu bolak-balik tiap minggu?"
"Iya masnya pulang tiap minggu, ya wajar tho ndok kalo masnya pulang, namanya juga punya anak kecil, pasti selalu kangen, apalagi dede Aini kan baru bisa ngomong, meskipun kata-katanya belum jelas, dengerin suara anak itu jadi obat untuk semua lelah dan penat, suatu hari kamu akan rasakan"
Mengharukan, penuh makna. Itu jawaban paling tulus seorang Ibu, hal itu mengingatkan aku pada pemandangan yang aku lihat saat pulang kampung beberapa bulan lalu, saat Ibu duduk di depan pintu dapur, memandangi anak pertama dan ketiga sedang sibuk memasak didapur sambil dengan penuh semangat bercerita banyak hal, tentang kejadian yang beliau lihat saat di pasar, tentang tetangga kami yang baru saja membeli kambing dengan harga cukup murah, atau sekedar bercerita tentang harga cabai yang menggila. Tapi apa yang aku lihat dari kakak-kakak ku? Mereka begitu sibuk dengan masakan mereka, mereka hanya terfokus pada masakan yang harus segera matang di pagi hari, dengan rasa yang enak dan bisa terhidang di warung sarapan kami se-pagi mungkin.
Kakak-kakak ku sama sekali tidak pedulikan cerita yang ibu ceritakan dengan begitu semangatnya, mungkin karena itu cerita yang hampir sama yang harus mereka dengar selama bertahun lamanya. Dan pemandangan yang sama (juga) adalah, Ibu tetap menceritakan semuanya dengan tetap tersenyum dan sesekali ia menyelipka tawa nan renyah dan hangat,tetap diabaikan.
*
"ndok, ndok kok diem? suara Ibu kedengeran gak?" panggilan Ibu sadarkan ku tentang memori menyedihkan itu.
"eh.. e.. ehh.. kedengeran kok Bu, iya, eh, emang Mba Tina dimana sekarang Bu? ada dirumah?"
"gak, kerja"
"dedek aini nya kemana? kok gak kedengeran ada suaranya Bu?"
"Gak ada orang dirumah, Ibu sendirian, makanya Ibu telpon kamu"
Deg. Sejenak waktu berhenti berdetik. Begitu sengsaranya hatiku membayangkan Ibuku yang sudah tua dan sedang sakit itu sendirian dirumah? Ya Allah, pulangkan aku sekarang, atau antarkan Ibu padaku sekarang juga, biar kurawat beliau, biar kutemani, aku ajak kekampus saat aku kuliah, aku ajak pada setiap  kegiatan organisasiku, takkan kubiarkan beliau sendirian, dan supaya beliau tak jenuh hanya memandangi dinding dan plafon rumah.
"Kak, udah selesai telponnya? Jadi kan kita beli buku?" tiba-tiba adik kos ku menyentuh punggungku dan aku langsung berkata tanpa suara yang mengisyarakan nanti dulu ya"Ibu udah makan?" pertanyaanku mencoba mengalihkan topik, aku sedang tidak ingin bersedih hari ini. Aku sedang berusaha untuk tidak lagi bersedih.
"Udah, tadi pas makan siang Mba Tina pulang bawain tongseng ayam, sama bawa buah, kamu udah makan ndok?"
"Aku, aku udah makan Bu, tadi aku goreng telur kecap, enak banget bu. Tapi pasti lebih enak tongseng ayamnya kan Bu? "
"Sejak kapan kamu boleh makan telur lagi ndok? itu alergi kamu nanti bisa kumat lagi, awas lho kalo lebaran besok ibu liat kamu alerginya kumat, gak tak kasih amplop lebaran nanti! Mana mungkin Ibu bisa makan enak kalo anak ibu aja disana makan makanan yang gak boleh dimakan" Suara Ibu melemah, seperti ada isak tertahan di setiap akhir katanya.
Demi mendengar isak tertahan itu, aku mencoba mengalihkan topik. "Oh iya Bu, lagi ada bazar buku, aku boleh beli buku ya, tenang, aku udah beli baju baru kok, jadi aku tetep anak Ibu yang selalu tampil cantik dan gak malu-maluin, hehe"
"Yaudah kalo mau beli, asal kertas yang untuk belinya ada, maafin Ibu gak bisa lagi kasih kamu uang, Ibu punya uang malahan untuk beli kursi roda, padahal Ibu jarang pakai, dan padahal kamu disana jauh lebih butuh, maafin Ibu ya ndok"
Ah. Gagal nih usahaku, gak sepenuhnya gagal sih, topik teralihkan, tapi suasana hati ternyata gak bisa berubah cepat menjadi ceria lagi. Adik kos ku masih dengan setia menunggu, sudah hampir setengah jam kami bercerita di telpon. Sebenarnnya aku kasihan membuat adikku menunggu, tetapi pantang untuk aku mengakhiri telpon dari Ibu.
Sampai satu jam kemudian Ibu mengakhiri telpon karena sudah saatnya mandi. Aku dan adikku segera meluncur ke lokasi bazar buku, dengan pikiran mengawang, membayangkan bagaimana Ibuku yang sudah tua dan tangan yang lemah itu melakukan semuanya sendiri, sendiri, sendiri.


----------------------------------------to be continue

Mengapa tak Menulis?


Kenapa?
Jawabannya adalah karena "nanti"
ya, nanti yang sering kuucapkan menyebabkan aku akhirnya tak pernah menulis apapun. Padahal yang ada dikepala rasanya ingin semua kutumpahkan, meski ada beberapa hal yang aku mau tak ada orang lain yang tau. Tahukah kamu Den's, selalu ada pelajaran dalam setiap kegiatan yang aku lakuin, dimanapun, kapanpun. Dalam semua kegiatan yang aku lakukan, aku begitu yakin Allah terlibat dan menyaksikan kesemuanya itu. Dan yang selalu ada dikepala ku juga, aku ingin kalian mendapatkan pelajaran yang sama, aku ingin kalian tahu dan bisa mengambil hikmah.

Lalu kenapa tak kutuliskan semua itu? Jawabannya adalah "karena nanti". Jadi gini, aku, selalu berharap suatu hari nanti aku akan memiliki beberapa buku hasil karanganku. Impian yang begitu umum, tanpa targetan waktu, tanpa keterangan buku apa yang aku akan tulis, sampai aku sendiri sulit mendeteksi kapan impian ini bakal terwujud kalo isinya umum banget begini. Yah, aku mohon maklumatnya, masih awam banget, masih belum bisa membagi waktu ku untuk ini dan untuk itu.

Aku sedikit menyarankan (untuk diriku sendiri juga) pada siapapun yang ingin menulis buku: MENULISLAH. Apapun itu, tulislah! Tulis semua yang ingin kalian tulis, aku pernah mempraktikkan ini, berhasil, bahwa disetiap sela kegiatan, aku menuliskan semua hal yang bisa aku tulis, kemudian malam hari nya kuketik ulang, jadilah postingan penuh semangat. Tapi karena beberapa alasan, aku tak melanjutkan itu, sekali lagi, aku hanya manusia yang sedikit sekali benarnya.

Baiklah, jangan ambil kesimpulan apapun dari tulisan ini, karena sepertinya aku memang tak menuliskannya, aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. Aku sedang berusaha merajinkan diriku pada menulis, meski hanya satu paragraf, atau hanya satu kalimat, aku akan tetap menuliskannya.

Rindu (?)

March 29, 2015

Ini adalah waktu yang aku sulit bagaimana menerjemahkannya. Aku melihat hal yang tak terlihat, merasakan hal yang tak berasa, mendengar hampa.

Pembaca, kalian akan dibuat bingung oleh kebingunganku. Kalian tak akan menemukan penemuan apapun. Tak ada mention disini, aku hanya ingin tuliskan apa kata yang terlintas beberapa mili-detik sebelum aku mengetiknya.

Aku sedang mencari jawaban untuk sebuah pertanyaan "merindukah ini?"
Aku hanya ingin menikmati setiap sakit yang rinduku buat, indah rasanya, ia menyiksaku yang tak pernah merasa tersiksa. Rindu selalu saja membingungkanku tanpa jawaban dari pertanyaan "bagaimana bisa?"

Apa kau mulai tak mengerti kemana tulisan ini bermuara?
Ya, itulah rinduku
Aku merasakann meski ia tak terlihat, bukan berarti ia tak ada
Dalam kehidupan ini memang banyak hal yang tak terlihat, bukan?

tahukah?
aku sampai kehabisan akal untuk menjelaskannya
bingung untuk menganalogikan kebingunganku
tak ada perumpamaan yang bisa mengumpamakan
tentang rindu
rindu ini ada
aku pemiliknya
tapi
tak ada tujuannya

apakah ada aliran sungai tak bermuara?
tidak ada?
maka bukan itu perumpamaan rinduku

apakah ada ruangan tak berudara didalamnya?
tidak ada?
bukan itu rinduku

Jika kalian tak mengerti semua penjelasan ini
Ya, itulah rinduku

Bila bulan bicara

Bulan sabit 
yang jatuh dipelataran
bintang reedup tanpa cahaya gemintang
langkah tanpa arah, hilang dijalan yang terang
aku yang terlena dibuai pelukan dosa

Merindu yang tak merindu
Mengenang yang telah hilang
Mencinta yang tak lagi ada
dan
Menyesali semua kenangan indah

Janji mu tertunaikan
Dirimulah lelaki paling tepat janji
Ingatkan kau akan janji itu?
Janji untuk mengubah setiap jengkal bahagia
menjadi luka dan derai air mata?

Kemarilah, Sayang
Saksikanlah aku luka
Saksikanlah
Aku yang lemah ini
sedang mengingat mu
ataupun sedang mencoba lupakanmu
aku lemah dan menangis

Cantikku

March 28, 2015

Hei cantik
Matamu merah
Kantung matamu sembab
Dan.. Wajahmu pucat
Kenapa?

Ada apa denganmu, cantikku?
Kamu seperti sedang sedih
dirimu seperti sedang sakit
ataukah sedang ada masalah?

Hei,
Semangat apa ini?
Semangat apa yang kau tularkan padaku?
Aku merasa aku tak bisa berhenti
Aku tak bisa izinkan tubuh ku berdiam
Menatap dirimu dalam cerminku
Aku melihat sesuatu : KEMENANGAN

Yah! Kemenangan yang luarbiasa
aku melihat kemenangan yang berada ditengah danau
danau yang penuh kesulitan
aku sadar apa ini
aku sadar kenapa diriku tak izinkan diriku berhenti

Dan untuk semua mimpi
Aku percaya
Malaikat sudah sampaikan mimpiku pada Illahi
untuk kelak menjadi cerita inspirasi

JANJI KU

January 30, 2015

malam ini,
izinkan aku tanpa lelah memandangi wajahmu
tak ingin aku terlelap
walau sekejap

selamat malam , ibuku
selamat malam wajahmu yang lelah
wajah teduh yang sedang terlelap pulas beristirahat dari kepenatan dunia
wajah yang kini penuh kerut karena memikirkan banyak hal untuk anak-anak mu
wajah yang selalu kuingat dalam renungan rindu padamu

selamat malam, ibuku
apakah istirahat ini cukup untukmu?
apakah istirahat ini mampu hilangkan lelah jerihmu?
apakah kau benar-benar  terlelap?
atau hanya pejamkan mata sembari memikirkan kami, anak-anakmu ?

ibu..
jauh ku cari ilmu
jauh darimu
semakin sedikit waktu yang kumiliki untuk menjaga dan merawatmu
maafkan aku, maafkan anak-anakmu


ibu..
sakit sekali yang aku rasa
saat akan mengakhiri liburanku
mulai mengemasi barang, membawa tas besar, dan melihatmu menangis (lagi)

ibu..
kali ini kumohon
lekaslah sembuh, kita akan kesana
ke masjid nabawi, foto di ka’bah, dan tentu, aku akan menjagamu
kita berfoto dengan tongkat foto ku..
kita .. aku berjanji , ibu


Kebahagiaan seperti apalagi yang harus kuminta? Aku telah memiliki semua yang bahkan belum pernah aku membayangkannya.
_DKS_



Terimakasih, Capuccino

January 23, 2015

Ilustrasi Aku dan Ayah
Terimakasih (lagi) untukmu, capuccino..
Minuman yang sejak pulang kampung aku jadi sangat menyukaimu
Kembali malam ini kamu temani indah malamku
Bersama sahut-sahutan suara kodok di kolam belakang rumah
Dingin tak hinggap dikulitku,
Tapi dihati


Tung tung tung tung
Begitu kira-kira suara kodok jika dituliskan
Nyanyian alam nan indah
Membawaku kembali pada satu waktu yang hangat dimasalalu


Pada suatu senja disebuah rumah nan sederhana, beriring gerimis dan matilampu
"Ayah, itu suara apa?" Tanya aku kecil pada Ayah yang sedang meminum kopi susu, minuman kesukaan beliau kala itu..
"Oh, itu suara kodok, emang sebelumnya belum pernah dengar ya?" Jawab ayah pada aku kecil, lanjutkan minumnya, kemudian letakkan gelas itu ke meja
"Belum Yah, suara kodok kok serem gitu ya?"
"Sayang.. Ayo ikut Ayah" jawab ayah sambil genggam lembut tanganku (ah, genggaman ini masih kuingat hangatnya)

Disanalah kami..
Ditepi kolam ikan, dibawah langit jingga, sedikit gerimis dan pisang goreng ditanganku, kami duduk, aku dan ayah..
"Sayang.. Pernah cobain rasa angin?"
Aku menggeleng
"Pernah nyicip rasa ujan
Aku menggeleng
Sebenarnya aku menggeleng karena merasa ayah sedang membawaku ke suasana yang kikuk, kaku menurutku, dan Ayah mengerti itu

"Coba merem.." Kata ayah (merem = mejem = pejam mata)
"Nafas yang panjaaang.. Dengar suara kodoknya.. Dengar suara tetesan airnya.. Dengar hembusan lembut angin .. Dan tersenyumlah.. Ayo senyum, gadis cantik ayah harus terus tersenyum, suara kodok yang serem, atau matilampu yang menakutkan, semua itu jadi terasa buruk karena kamu ga menikmatinya.. Cobalah untuk selalu tenang, istighfar, bersyukur, maka apapun yang sedang terjadi, itu menjadi indah.. Ingat, Laa Tahzan innallaha ma'anaa"



Kenangan itu, membuatku tersenyum sedih.. Pak Wahidin adalah lelaki terhebat, tauladan nomor dua setelah Rasulullaah S.A.W..

Tangisan mengenang Ayah, menghangatkan hati, dan mendinginkan kopi

Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'aafihi, wa'fuanhu..
Ayah .. semoga kita bertemu di syurga-Nya

Aamiin




Kini

January 14, 2015

Seperti apa aku harus berdoa
Ketika marah telah sampai di puncak kepala
Bingung melanda
Gusar
Sedih
Terluka

Pada apa aku harus mengusap tetesan mutiara
Pada apa aku akan meminta perhatian
Pada apa aku bisa bercerita dan berkeluh kesah
Pada siapakah lagi aku bisa merajuk manja

Angin tak datang
Cahaya telah hilang

Lalu siapa lagi?
Apalagi yang akan temani?
Hanya caci!
Maki!
Sepi!

Mereka yang sejatinya menjadi musuh
Kini adalah sahabat setia

Untuk Sebuah Hati

January 12, 2015

Lampung, 9 Januari 2015
00:30

Beliau tak meminta, tapi sudah kubaca semua cerita yang beliau tulis. Pemikiran luar biasa, sama seperti prasangkaku tentangnya.

Tahukah?
Aku selalu berdoa beliau akan dengar seluruh ceritaku kelak tentang doa, pengharapan dan perjuangan, mungkin hal kecil baginya, tapi ini terbaik yang ku mampu.

Cerita penuh haru, ditempat yang kami tak pernah tahu

Ya Allah, aku percaya
Aku pasrahkan seluruh hati
Tanpa tapi, tanpa kecuali

Semoga

Bangkit dan Berjuanglah !

Nasihat untuk siapapun yang mau teriakkan bangkit pada dirinya..

Bicara tentang manusia super.. Maka kita kan bicara tentang seseorang yang mampu menaklukan dirinya sendiri..

Menaklukkan rasa malas.. Menaklukan jiwa yang terlalu mudah menyerah terhadap rasa lelah.. Menaklukkan sikap pasrah.. Padahal ia belum menggapai apa yang semestinya ia capai..

Kulihat dan aku pun berfikir tentang mereka..
Professor ada bukanlah lantaran hanya karena mereka cerdas... Para penemu pun  lahir bukanlah karena mereka jenius...
Sejatinya mereka ada lantaran karena kesungguhan...

Ia bukanlah tentang bakat ataupun talenta..
Ia bukanlah tentang suatu hal yang sudah ada begitu saja..
Bukan sesuatu yang langsung ada sejak dilahirkan..
Melainkan ia tentang kebiasaan yang kau ciptakan..

Ia dibentuk dari pemikiran...
Pemikiran yang pengaruhi apa yang kau ucapkan..
Ucapan pengaruhi apa yang akan kau lakukan..
Apa yang kau lakukan lama-lama menjadi kebiasaan..

Habit itu dibentuk...
Memang tidaklah mudah, namun sungguh bisa jadi seperti apapun yang kau mau..
Dengan kesungguhan yang ada di dadamu..

Percayalah padaku...
Kau bisa jauh lebih hebat dari mereka..
Menjadi sesuatu yang tak pernah mereka duga.. Sesuatu hal yang benar-benar luar biasa..
Kenapa?
Karena Allah telah sebutkan dalam firman-Nya

"Sesunguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah kebiasaan mereka sendiri" (Q.S Ar Ra'd : 11)

Ku percaya padamu..
Kamu pasti bisa..
Apalagi saat kau benar-benar menginginkannya...

SemangatPerubahan!
SelaluMenjadiLebihBaik!
Allahuakbar



Ditulis oleh
Taufik Ramadhani
Singkarak, 28 Desember 2014 (22:05)

Hati-hati, hati

December 22, 2014

Apalah mata ini
Melihat yang indah, terlena

Apalah telinga ini,
Mendengar yang merdu, terlena

Apalah kulit ini,
Merasa yang nyaman, terlena

Apalah lidah ini
Mengecap yang enak, terlena

Apalah semuanya
Mudah sekali terlena
Tapi aneh!
Ada yang lebih mudah terlena
Terlena nya menghancurkan

Bisa melukai banyak hal, banyak orang
Namun begitu, ia bisa menjadi obat terampuh
Segala luka

Tahukah kamu?
Impianmu itu,
Membuatku merasa luka
Luka dan terobati dalam waktu yang sama

Merindukan rindu yang tak merindukan

Bukan,

Mungkin hanya belum tepat

Percayalah
Akan ada yang baik untuk yang baik

Untuk saat ini
Hati-hati, hati
:-)

terkuat dan terlemah

Indahnya pengharapan
Saat tak ada lagi yang bisa dilakukan
Usaha terakhir adalah pengharapan
Dalam wujud doa
Terlihat terlemah
Namun kenyataannya, ia yang terkuat

Terindah
Dan paling ajaib
...

Tak berwujud
Namun kekuatannya lebih dari apapun
...

Itu mengapa ia disebut senjata
Senjata terkuat

Mukminin

Ajari aku

Hai, bintang!
Yang tetap bersinar meski tertutup awan
Meski bumi tak melihat terangmu
Meski matahari tak berbagi cahayanya

Bintang tetaplah terang
Tak menyombong
Ia besar
Meski dunia melihatnya kecil
Meski dunia tak menganggap nya
Meski sinarnya tak terasa terang dibumi

Ajarkan aku seperti engkau

Bintang

Puzzle

December 19, 2014


"Ilmu adalah kepingan puzzle, yang sekalipun kita memiliki kepingan yang lengkap, kita tetap perlu usaha dan strategi untuk menyusunnya menjadi susunan puzzle yang tepat"


Terimakasih untuk kalian yang selalu menjadi inspirasi tanpa henti. Menjadi cahaya terang benderang dikegelapan. Menjadi sahabat sejati dalam kesepian. Dan semuanya itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. Maka apalah lagi yang harus aku minta pada Allah? Apalah lagi kesedihan yang kusesalkan? Adakah yang lebih baik daripada bersyukur, berterimkasih atas anugerah-Nya kenalkan aku pada kalian?

Terimakasih sahabat,
Kenalkan aku pada mimpi
Bangunkan aku dari tidur
Dan tuntun aku meraih impian!

Terimakasih Sahabat,
Kenalkan aku pada lemah
Hingga aku menjadi orang yang lebih kuat

Terimakasih sahabat,
Kenalkan aku pada marah
Hingga aku menjadi orang yang lebih sabar

Dan terimakasih
kenalkan aku pada jatuh
Hingga aku menjadi orang yang mampu bangkit

Terus bangkit
Tanpa lelah
Tanpa lemah
Tanpa amarah


Terimakasih




Sahabat itu adalah engkau

Hello Mr.Wonderer !

December 18, 2014

Sebelum aku cerita panjang tentang Mr.Wonderer, aku mohon maaf atas sikap kekanakan dan kurang sopan dari temen-temen aku, terlepas dari aku gak tau Mr. Baca atau gak tulisan ini. Semoga sikap gak enak itu bukan bagian buruk Mr.

Terimakasih banyak Mr. Wonder untuk awesomestory nya tentang kerennya perjalanan backpacker, yang menurut Mr. lebih tepat disebut Wonderer
Mr tau? Itu pertama aku dengar sebutan unik itu, dan sejak itu "semangat backpack" meletup-letup lagi.
Sejak awal aku tertarik dengan penampilan Mr. . aku bisa tebak ada kesamaan hobi.

21:34
17/12/14

Obrolan pembuka yang aku pikir gak akan pernah ada ada dari Mr. . Memperkenalkan diri sebagai backpacker asal makassar yang sedang dalam misi trip sumatera, membuat ngantu seketika hilang (dengan tetep cool pastinya :p )

Cerita tentang trip satu tahun di pulau jawa, istirahat di hammock, terus tentang hosting (jujur, setelah Mr. cerita tentang hosting itu, aku langsung browsing, penasaran. Pernah dengar itu sebelumnya, tapi belum pernah tau apa artinya, hihi) lalu cerita tentang sosial media di awal peradaban internet di Indonesia, ada friendster, MIRC etc.

Terimakasih banyak Mr.Wonderer untuk cerita luar biasa inspiratif nya, terlalu banyak untuk aku post disini. Sekalian aku mohon izin jadikan Mr. tokoh di cerita yang akan aku tulis. Semoga diizinkan yaa.. Makasih :)

Really glad to know you, Mr.Wonderer
Have a great adventures!



"Saya adalah anak bangsa yang hanya ingin lebih mengenal Indonesia lebih banyak, izinkan saya menumpang, Pak"
Ini mantra nya kalau mau nebeng heli TNI untuk kepulau rondo, pulau paling ujung utara di Indonesia
-Rama-

Ini tentang kamu, iya kamu, ;-)

December 01, 2014

Kamu yang aku sebut namanya, terimakasih ya untuk kebaikan kamu, ketulusan kamu, keikhlasan kamu selalu ada disamping Aku, kebaikan hati kamu untuk selalu temenin Aku, meskipun aku ini suka nyebelin (iya yang ini aku sadar sendiri kok) hehe. Untuk kamu, Aku terima kasih banget untuk semuanya, entah apa yang harus aku lakukan untuk balas semua kebaikan kalian, Aku cuma bisanya doa, semoga Allah selalu memberikan kebaikan yang jauh lebih banyak dari semua kebaikan yang udah kamu lakukan, bukan hanya ke Aku, tapi kebaikan kamu ke semua orang.

Ini untuk kamu yang bikin aku senyum-senyum malu kalo Aku inget hal bodoh yang aku lakukan saat aku lepas kontrol, hehe, Kamu bisa aja bikin aku ketawa dengan topik apapun, aku terimakasih banget

Untuk kamu yang selalu ada, meskipun ada nya ya ngejek aku, nge bully aku, but i love them, I love anything you did to me, aku terima kasih banget

Gak akan aku bisa tulis semua kebaikan kamu, gak akan sanggup aku ketik trilyunan terima kasih untuk wakilkan betapa aku terimakasih pada dirimu, terima kasih se banyak-banyaknya.



Aku hanya rindu ...

Bukan uang, 
bukan emas yang aku mau,
bukan juga perhiasan atau fasilitas apapun.

Bukan itu. 

Aku mau perhatian, 
perhatian sederhana tak terlupakan..

Aku tak bermaksud egois

...
...aku hanya rindu

Senja ini masih rindumu

Senja ini...
Masih terisi cerita tentangmu
Meski panas membakar embun didedaunan
Memori indah denganmu tak luruh digilas zaman


dan..
Imajinasiku tak juga berpaling darimu
Inspirasi pada setiap puisi yang teruntai
Bagai pucuk cemara diterpa sinar rembulan
Selalu mampu menciptakan lukisan indah bayangan


ah..
Rupanya rindu ini
Masih tetap untukmu
Kekasihku..
 

Den's Visitor

Most Reading