Sendiri

May 07, 2015

"Mba Tina itu kalau ada Mas Yandra rajin sekali masak dek, pagi-pagi, dapur udah harum sambel bawang, jam 10 udah klotek-klotek lagi didapur, terus nanti jam empat udah mulai buka kulkas mau masak lagi, kalo masak sendiri itu ibu lebih seneng rasa masakannya" Ibu bercerita.
Seperti biasa, aku selalu mendengarkan dengan khidmat setiap cerita yang Ibu ceritakan, meski itu cerita yang sudah ibu ceritakan sekitar tujuh kali dalam dua minggu terakhir. Akulah Dee, Dhia Syarafana, orangtua ku menamaiku demikian berharap aku menjadi "cahaya kemuliaan" untuk keluarga kami, di hari kemudian. Aku anak ke 5 dari 5 bersaudara, Ibu sedang sakit dan Ayah sudah pergi, untuk membangun rumah kami di sana, supaya saat kami datang, rumah kami sudah siap huni, itu yang selalu Ibu katakan padaku.
Akulah anak terakhir, yang menjadi tanggungan untuk 4 kakak ku beserta pasangan hidupnya, (menurutku) begitu kira-kira hadirku bagi mereka. Darimana aku harus mulai bercerita tentang perjalanan panjang nan singkat ini?
Baiklah, aku akan memulai dengan kelanjutan dari percakapan hangat sore ini.
"Memangnya setiap akhir pekan Mas Yandra selalu pualang Bu? Jakarta-Lampung kan jauh Bu, apa gak capek mas yandra itu bolak-balik tiap minggu?"
"Iya masnya pulang tiap minggu, ya wajar tho ndok kalo masnya pulang, namanya juga punya anak kecil, pasti selalu kangen, apalagi dede Aini kan baru bisa ngomong, meskipun kata-katanya belum jelas, dengerin suara anak itu jadi obat untuk semua lelah dan penat, suatu hari kamu akan rasakan"
Mengharukan, penuh makna. Itu jawaban paling tulus seorang Ibu, hal itu mengingatkan aku pada pemandangan yang aku lihat saat pulang kampung beberapa bulan lalu, saat Ibu duduk di depan pintu dapur, memandangi anak pertama dan ketiga sedang sibuk memasak didapur sambil dengan penuh semangat bercerita banyak hal, tentang kejadian yang beliau lihat saat di pasar, tentang tetangga kami yang baru saja membeli kambing dengan harga cukup murah, atau sekedar bercerita tentang harga cabai yang menggila. Tapi apa yang aku lihat dari kakak-kakak ku? Mereka begitu sibuk dengan masakan mereka, mereka hanya terfokus pada masakan yang harus segera matang di pagi hari, dengan rasa yang enak dan bisa terhidang di warung sarapan kami se-pagi mungkin.
Kakak-kakak ku sama sekali tidak pedulikan cerita yang ibu ceritakan dengan begitu semangatnya, mungkin karena itu cerita yang hampir sama yang harus mereka dengar selama bertahun lamanya. Dan pemandangan yang sama (juga) adalah, Ibu tetap menceritakan semuanya dengan tetap tersenyum dan sesekali ia menyelipka tawa nan renyah dan hangat,tetap diabaikan.
*
"ndok, ndok kok diem? suara Ibu kedengeran gak?" panggilan Ibu sadarkan ku tentang memori menyedihkan itu.
"eh.. e.. ehh.. kedengeran kok Bu, iya, eh, emang Mba Tina dimana sekarang Bu? ada dirumah?"
"gak, kerja"
"dedek aini nya kemana? kok gak kedengeran ada suaranya Bu?"
"Gak ada orang dirumah, Ibu sendirian, makanya Ibu telpon kamu"
Deg. Sejenak waktu berhenti berdetik. Begitu sengsaranya hatiku membayangkan Ibuku yang sudah tua dan sedang sakit itu sendirian dirumah? Ya Allah, pulangkan aku sekarang, atau antarkan Ibu padaku sekarang juga, biar kurawat beliau, biar kutemani, aku ajak kekampus saat aku kuliah, aku ajak pada setiap  kegiatan organisasiku, takkan kubiarkan beliau sendirian, dan supaya beliau tak jenuh hanya memandangi dinding dan plafon rumah.
"Kak, udah selesai telponnya? Jadi kan kita beli buku?" tiba-tiba adik kos ku menyentuh punggungku dan aku langsung berkata tanpa suara yang mengisyarakan nanti dulu ya"Ibu udah makan?" pertanyaanku mencoba mengalihkan topik, aku sedang tidak ingin bersedih hari ini. Aku sedang berusaha untuk tidak lagi bersedih.
"Udah, tadi pas makan siang Mba Tina pulang bawain tongseng ayam, sama bawa buah, kamu udah makan ndok?"
"Aku, aku udah makan Bu, tadi aku goreng telur kecap, enak banget bu. Tapi pasti lebih enak tongseng ayamnya kan Bu? "
"Sejak kapan kamu boleh makan telur lagi ndok? itu alergi kamu nanti bisa kumat lagi, awas lho kalo lebaran besok ibu liat kamu alerginya kumat, gak tak kasih amplop lebaran nanti! Mana mungkin Ibu bisa makan enak kalo anak ibu aja disana makan makanan yang gak boleh dimakan" Suara Ibu melemah, seperti ada isak tertahan di setiap akhir katanya.
Demi mendengar isak tertahan itu, aku mencoba mengalihkan topik. "Oh iya Bu, lagi ada bazar buku, aku boleh beli buku ya, tenang, aku udah beli baju baru kok, jadi aku tetep anak Ibu yang selalu tampil cantik dan gak malu-maluin, hehe"
"Yaudah kalo mau beli, asal kertas yang untuk belinya ada, maafin Ibu gak bisa lagi kasih kamu uang, Ibu punya uang malahan untuk beli kursi roda, padahal Ibu jarang pakai, dan padahal kamu disana jauh lebih butuh, maafin Ibu ya ndok"
Ah. Gagal nih usahaku, gak sepenuhnya gagal sih, topik teralihkan, tapi suasana hati ternyata gak bisa berubah cepat menjadi ceria lagi. Adik kos ku masih dengan setia menunggu, sudah hampir setengah jam kami bercerita di telpon. Sebenarnnya aku kasihan membuat adikku menunggu, tetapi pantang untuk aku mengakhiri telpon dari Ibu.
Sampai satu jam kemudian Ibu mengakhiri telpon karena sudah saatnya mandi. Aku dan adikku segera meluncur ke lokasi bazar buku, dengan pikiran mengawang, membayangkan bagaimana Ibuku yang sudah tua dan tangan yang lemah itu melakukan semuanya sendiri, sendiri, sendiri.


----------------------------------------to be continue

No comments:

Post a Comment

 

Den's Visitor

Most Reading