Menangis terlalu cepat

May 26, 2015

Saksikanlah, inilah Aku, anak ragil yang memang begini adanya, seperti kata orang kebanyakan, anak ragil itu cengeng, manja, rewel, dan sebagainya. Akutidak bisa menerima begitu saja, tetapi aku juga tidak bisa memungkirinya. Inilah aku, yang selalu coba mematahkan anggapan apapun tentang anak ragil, anggapan bahwa anak ragil itu manja, anggapan bahwa anak ragil itu tidak bisa apa-apa, anggapan bahwa anak rigil itu bisanya cuma nangis dan rewel meminta. Aku mencoba mematahkan itu.

Tapi apa daya, itu tak lain ibarat anak ayam mencoba terbang, yah, anak ayam, dia memang punya sayap, tapi dia tetaplah anak ayam. Seperti itulah aku, setegar apapun aku berjuang, aku kembali pada karakter yang sudah melekat pada diriku : manja dan menangis.

Ibu, ini anakmu, yang tetap manja tapi tak ada yang memanjakan. Ibu, ini anakmu, yang tetap cengeng tapi tak ada tempat peraduan. Ibu, ini anakmu, yang mengetik namamu saja rinduku tak tertahankan.

Hari ini, aku mencari banyak hal, banyak sekali, yang intinya semua hal yang kucari ini adalah : mencari kesempatan untuk bisa menangis dihadapan umum. Dan mencari jalan untuk bisa membuatmu menangis didepan umum. Maafkan niat jahatku ini Bu, aku sungguh-sungguh encari jalan untuk bisa membuat mu menangis.

Berbagai cara kucoba, dan sepertinya jalan yang kulalui ini kurang banyak, masih jauh dari pencapaian, masih belum tercapai harapanku untuk memnangis dan membuatmu menangis didepan umum. Ibu, ketahuilah, sesungguhnya aku bosan melihatmu menangis diam-diam. Aku pun bosan menangis diam-diam. Aku ingin dunia melihat tangisan kita. maka aku berjuang untuk itu.

Siang ini, perjuangan PKM ku sudah hampir diujung jalan, tapi saat aku mengevaluasi diri, rasanya pencapaian kami hanya mencapai 40%, Ibu, aku ingin diundang PIMNAS, sepertinya ini peluang untuk menangis didepan umum, mungkinkah kami pantas diundang PIMNAS jika pencapaian kami hanya sekecil ini? Sayangnya, belum sempat aku menangis didepan umum, aku sudah menangis dahulu didepan layar ini, Aku melihat video-video mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk PIMNAS juga, mereka melakukan usaha yang jauh luarbiasa lebih penuh perjuangan. Maka aku kembali bertanya pada diriku, pantaskah aku? Ibu, Aku melihat video saat pelaksanaan PIMNAS di UNDIP tahun lalu, aku menangis prematur, aku menangis karena pertanyaan "Mungkinkah aku termasuk diantara orang-orang ini di PIMNAS nanti?"

Ibu, terlepas dari semua, izinkan aku membuatmu menangis, meski hanya dengan melihat videoku nanti, aku ingin menyebut namamu jika aku mendapatkan kesempatan berbicara didepan. Aku bukan hanya menargetkan PIMNAS, Aku menargetkan mendapat emas, sehingga atas emas yang aku dapat, aku berharap diizinkan berbicara didepan sekedar untuk berterimakasih padamu, Ibu.

Doakan anakmu

No comments:

Post a Comment

 

Den's Visitor

Most Reading