"Buta terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu, obat dll semua tergantung pada KEPUTUSAN POLITIK.
Orang yang BUTA POLITIK begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional"
(Bertolt Brecht - Penyair Jerman)
Bahasa yang sangat frontal memang, tapi memang begitulah adanya. Den's, ini ungkapan lama yang tadi siang dibacakan Mas Fe saat aku cerita dan mengeluhkan betapa piciknya sistem politik yang aku amati saat ini, dan aku sempat menyatakan bahwa aku pro golput. Beliau dengan tegas dan bijak menyampaikan bahwa itu adalah pilihan terburuk yang dilakukan untuk (katanya) 'memperbaiki' nasib rakyat.
Dipikir coba : "Apanya yang akan diperbaiki dengan golput? Golput hanya akan memperparah sistem yang saat ini kamu nilai "bobrok", golput akan membuka peluang terpilihnya orang-orang yang tidak berkompeten dalam politik, orang-orang yang hanya haus akan harta dan kekuasaan, orangorang yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti alur kerja politik yang sesungguhnya. Padahal kita memiliki hak suara, kita berhak menentukan siapa yang kita nilai terbaik menjadi pemimpin kita, minimal, itu sumbangsih kita dalam tujuan kesejahteraan rakyat"
Sudah sangat jelas bagi aktivis mahasiswa bahwa politik itu sangat besar kekuatannya. Mereka tahu betul, segala bahan kajian, segala aspirasi, advokasi dan apapun itu yang mereka lakukan, hanya dapat terlaksana jika mendapatkan persetujuan dari politik. Bagaimana mungkin kita memutuskan untuk buta politik?

No comments:
Post a Comment