Putri, seorang gadis cantik yang dikenal selalu ceria, semangat, suka berbagi dan pandai bergaul. Putri menghabiskan banyak waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang Putri sendiri gak ngerti darimana kekuatan untuk mengikuti semua itu datang. Yang pasti, ada satu wajah yang selalu menguatkan nya : Mama. Pasti lah itu wajah yang ada di hati seorang gadis cantik yang sudah lebih dari tiga tahun yang ditinggal meninggal oleh Ayahnya.
Putri ini aktivis kampus, dia juga sering berkumpul dan mengkaji ilmu agama dengan teman dekatnya. Hanya aja, ada satu sisi yang misterius dari sosok seorang Putri, asal membahas tentang keluarga, dia tutup itu rapat-rapat itu dari temannya, sekalipun itu teman terdekatnya.
Tapi ada satu hal yang sahabatnya tau : Putri hanya mau bercerita banyak hal pada seseorang : Doni. Tapi Putri juga gak yakin gimana cara si Putri yang tertutup ini menceritakan kisahnya. Yang Putri heran, kenapa doni seringkali sakiti putri dengan sikapnya, bukankah dia seharusnya orang yang paling perhatian ke putri karena dia yang paling banyak tau cerita putri. Entahlah, itu terlalu rahasia untuk dikuak.
"Kenapa diem Put?" tanya agnes, sahabat putri. "Ah, eh, gapapa, lagi pengen diem aja" jawab putri sambil sedikit kaget. Saat Putri sudah mulai fokus pada diamnya, saat itu agnes tau dia juga harus diam. "Aku kekantin deh yaa.. kamu mau ikut? Cari makan, biar energi untuk diemnya cukup". Itu sih sebenernya alasan agnes aja untuk berlalu, dia gak beneran ajak putri ke kantin, karena dia tau putri akan tetap bergeming di duduknya.
*
Prang! Prang! Prang! Suara piring pecah. "Kamu kenapa sayang? duduklah, menangislah disini, jangan dengan merusak barang-barang yang setelah ini akan kamu sesali rusaknya" Doni mencoba menahan tangan putri sambil perlahan menarik lembut kepala putri kedalam dekapannya. tangisan putri yang awal tanpa suara mulai terdengar sedu sedan. "Aku gak mau kak Ana pergi dari keluarga kami Kak.. Aku gak mau kehilangan seseorang lagi dalam hidup Aku, Aku gak mau Kak" putri mengadu dengan tangis manjanya.
"Kamu gak kehilangan siapa-siapa sayang.. kamu gak akan pernah kehilangan siapapun. Coba liat, dengan bulan yang memancar saat ini, apa berari kita gak punya matahari lagi? gak, kan? Kamu pasti udah ngerti itu kok sayang.. kamu cuma lagi kangen aku, makanya kamu marah-marah, ya kan sayang?" goda Doni sambil mencubit lembut pipi putri. Putri tersenyum. "Aku pulang ya, kamu selamat istirahat, kalo nanti malem gak mimpi aku, jangan pecahin barang-barang lagi oke?"
*
"Putri, nanti sore kita ada rapat ya, harus hadir semua, acara kita bentar lagi nih" sapa aya, teman satu organisasi putri, membangunkan putri dari kenangan. "oh, siap deh bos! bilang begitu kok ke aku sih? bilang begitunya sama yang lain dong, mereka yang sering gak dateng" jawab putri dengan penuh ceria lagi.
Ada sesuatu yang tersembunyi, satu hal, tapi sangat besar. Itu yang kesimpulan agnes setelah mengenal Putri, hanya agnes yang selalu sependapat dengan pemikiran Putri.
(to be continued)
No comments:
Post a Comment